Wednesday, February 18, 2009

Banjarmasin dari Angkasa



Iseng-iseng pakai google earth ngintip kota Banjarmasin dari atas........Hasilnya adalah seperti gambar diatas. Waduh....rumahku dimana ya???

Thursday, January 15, 2009

Bumi Isra’ Dan Mikraj Nabi Dikhianati

Jika hari-hari ini kita menyaksikan tayangan televisi al-Jazeerah, al-‘Alam atau televisi lokal, pasti hati kita akan tersayat pedih. Kita menyaksikan setiap hari penduduk Gaza dibantai dengan biadab oleh bangsa terlaknat (al-maghdhubi ‘alaihim), Yahudi. Lihatlah, dalam waktu 18 hari saja, sudah 930 jiwa yang gugur sebagai syuhada’, dan 4280 jiwa yang terluka, sebagai korban kebrutalan dan kebiadaban Israel. Sampai PM Israel, Ehud Olmert (12/1/2009 M) menyatakan, bahwa apa yang telah dilakukannya dalam 16 hari itu belum pernah dilakukan sebelumnya sepanjang pendudukan. Dia juga mengklaim, apa yang dicapainya dalam waktu 16 hari itu juga belum pernah dicapai sebelumnya.

Klaim Olmert mungkin benar, jika dilihat dari jumlah korban dan kerusakan yang ditimbulkan oleh kebrutalan dan kebiadaban Isreal. Bukan hanya manusia, rumah, sekolah dan masjid pun tidak luput dari kebrutalan dan kebiadaban bangsa kera itu. Meski demikian, yakinlah apa yang dialami oleh Israel saat ini sesungguhnya adalah kegagalan dan kekalahan. Pejabat Israel semula menyatakan, bahwa target mereka menyerang Gaza, yang didahului dengan blokade selama bertahun-tahun, adalah untuk melumpuhkan kekuatan Hamas dan kelompok-kelompok perlawanan yang ada di Gaza, seperti Brigade al-Qasam, al-Quds dan lain-lain dalam waktu lima hari. Namun, sudah 18 hari target ini tidak berhasil mereka capai. Meski Israel telah mengerahkan seluruh kekuatannya, bahkan dengan menggunakan senjata terlarang, seperti bom Fosfor putih, ternyata mereka tak kunjung berhasil. DK PBB yang mengeluarkan resolusi 1860 pada tanggal 9 Januari 2009 M, yaitu 14 hari setelah serangan biadab Israel, yang bertujuan untuk menyelamatkan posisi Israel pun juga tidak berhasil. Sehari sebelum serangan darat, 2 Januri 2009, pejabat Israel menyatakan akan mengerahkan 6500 personil lengkap dengan tank dan kendaraan lapis baja, hingga hari ini ternyata tidak berhasil. Sehingga Israel terpaksa harus mengerahkan tentara cadangannya (12/1/2009 M). Olmert yang sebelumnya menyatakan, bahwa tidak lama lagi serangan akan diakhiri, karena target hampir tercapai, namun hari ini pernyataan itu harus direvisi Menlunya sendiri, Livni.

Namun yang menarik, pada hari yang sama (13/1/2009 M), Menlu Mesir, Abu Ghaith juga menyatakan tidak akan mentolelir negaranya digunakan untuk membangun kekuatan Hamas. Iya, pemerintah Mesir bukan hanya mengkhianati Hamas, tetapi juga rakyat Gaza dan Palestina. Lihatlah, ketika penduduk Gaza hendak memasuki Rafah, perbatasan Gaza-Mesir, polisi Mesir melepaskan tembakan peringatan ke udara, dan mengusir mereka. Bahkan, kini ketika Gaza sudah dijadikan sebagai zona militer tertutup oleh Israel, dan satu-satunya pintu keluar adalah Rafah, lagi-lagi penguasa Mesir hanya diam menyaksikan saudara-saudara mereka dibantai di depan mata mereka.

Wajar, jika sebelumnya Hasan Nashrullah, pimpinan Hizbullah, menyatakan jika penguasa Mesir tidak membuka pintu Rafah, berarti mereka terlibat dalam tindakan kriminal Yahudi. Dan, jika rakyat Mesir juga diam, tidak mendesak penguasa mereka, maka mereka pun sama. Sama-saam terlibat dalam tindakan kriminal Yahudi terhadap Gaza. Rupanya, pernyataan Hasan Nashrullah itu begitu menakutkan penguasa Mesir. Bukan hanya Menlu, Abu Ghaith, yang menanggapi pernyataan tersebut, tetapi penguasa Mesir langsung melakukan mutasi besar-besar di tubuh angkatan bersenjata Mesir, karena khawatir akan terjadi kudeta. Apalagi, sebelumnya seorang perwira Mesir menyatakan akan menggulingkan Husni Mubarak, jika dia berpihak kepada Israel. Bukan hanya itu, dengan sigap penguasa Mesir pun telah menangkap dan menjebloskan sejumlah perwira tinggi mereka ke penjara. Pengkhianatan penguasa Mesir tidak hanya sampai di situ, suara rakyatnya pun dibungkam. Tidak kurang puluhan anggota Ihwan al-Muslimin ditangkap dalam demonstrasi menentang kebrutalan Israel, dengan dalih menjadi anggota organisasi terlarang.

Pemerintah Mesir tidak sendiri. Pemerintah Yordania juga melakukan hal yang sama. Meski demonstrasi diizinkan, namun sejumlah demonstran ditangkapi di depan Kedubes Israel di Amman, ketika memprotes kebiadaban Israel. Bahkan yang lebih ironis lagi adalah penguasa Saudi. Jika di televisi Suriah, Libanon, Qatar, Libya dan lain-lain hampir setiap saat memutar tayangan tragedi Gaza berulang-ulang, maka hal yang sama tidak akan Anda jumpai di televisi Saudi, baik channel 1 maupun 2. Bukan hanya itu, Mufti Saudi pun diminta mengeluarkan fatwa yang mengharamkan demostrasi jalanan untuk menentang kebrutalan Israel. Tentu saja, fatwa aneh ini pun ditentang oleh para ulama’ yang lain. Dari Suriah, seorang ulama’ secara terbuka di televisi al-‘Alam meminta sang mufti bertaubat kepada Allah, karena fatwanya yang ngawur itu. Bukan hanya itu, pemerintah Saudi juga menolak seruan Iran untuk mengembargo pasokan minyak ke Israel. Qatalahumu-Llah fa aina yu’fakun (Semoga Allah segera membinasakan mereka. Bagaimana mereka sampai bisa berpaling seperti itu)?

Inilah bukti-bukti pengkhianatan mereka, bukan hanya terhadap Gaza, tetapi juga terhadap bumi Israk dan Mikraj Nabi saw. Jatuhnya Palesina ke tangan Yahudi adalah buah pengkhianatan para penguasa itu. Mulai dari Perang 1948, Perang 1956 hingga Perang 1967, yang secara keseluruhan peperangan tersebut berhasil membangun mitos, bahwa Israel tak terkalahkan, dan tidak bisa dihadapi dengan peperangan. Padahal, pengkhianatan para penguasa itulah yang menyebabkan Israel seolah tidak terkalahkan. Bukti nyata semuanya itu kini bisa kita saksikan dalam serangan brutal Isarel saat ini. Selain itu, kita juga telah menyaksikan bagaimana Israel, yang konon hebat itu, ternyata kalah berperang melawan Hizbullah, Juli 2006.

Iya. Para penguasa itulah yang sesungguhnya menjadi penyakit Islam dan umatnya. Mereka menjadi benalu, dan racun di tubuh umat Muhammad saw. ini. Ketika tentara-tentara Islam siap berjihad, merekalah yang justru mengikat tangan dan kaki tentara-tentara itu untuk berangkat berjihad. Ketika rakyat meluapkan perasaan mereka, untuk memprotes diamnya para pengkhianat itu, justru mereka terus-menerus menjaga kepentingan Yahudi di negeri mereka. Mereka bahkan telah diajari oleh seorang Hugo Chaves, yang nota bene bukan pemeluk Islam. Anehnya, mereka pun tidak malu. Iya, mereka memang sudah tidak mempunyai rasa malu. Karena akidah mereka sudah mati. Mereka memang bukan lagi umat Muhammad. Lalu, masihkah umat Muhammad ini berharap kepada mereka?

Tidak. Umat Muhammad yang mulia ini membutuhkan seorang pemimpin yang ikhlas, berjuang dan mengabdi hanya untuk kepentingan Islam dan umatnya. Dialah Khalifah kaum Muslimin. Iya. Sudah saatnya, umat ini mengangkat seorang Khalifah untuk mengurusi dan menyelesaikan seluruh urusan mereka. Khilafahlah yang akan memenuhi jeritan anak-anak, wanita dan orang tak berdaya di Gaza. Khilafahlah yang akan mengerahkan pasukannya untuk berjihad melawan tentara Israel, dan menghancurkan negara Yahudi itu hingga ke akar-akarnya. Khilafahlah yang akan menghadapi Amerika, Inggeris, Rusia dan negara-negara Eropa yang mendukung eksistensi negara Zionis itu. Khilafahlah yang akan membersihkan negeri-negeri kaum Muslimin dari antek-antek negara-negara penjajah itu.

Allahumma ikhla’ Kiyan al-Yahud, wa a’wanaha, wa duwal al-lati da’amatha wa da’amat wujudaha min Falasthin wa sairi bilad al-Muslimin min judzuriha. Wa ‘aqim ‘alaiha daulata al-Khilafah ya Rabb. Allahumma ‘ajjil lana nushrataka bi qiyamiha (Ya Allah, cabutlah entitas Yahudi, para pendukungnya, juga negara-negara yang mendukungnya dan mendukung eksistensinya dari Palestina dan seluruh negeri kaum Muslim hingga ke akar-akarnya. Ya Rabb, dirikanlah di atas puing-puingnya Negara Khilafah. Ya Allah, segerakanlah pertolongan-Mu dengan tegaknya Khilafah). Allahhumasyhad, fainna qad ballaghna..

Resolusi 1860 Bukti Nyata Pengecutnya Para Penguasa Negeri Islam

Mereka Tidak Hanya Menghinakan Gaza dengan Tentara Mereka, Justru Gaza Mereka Serahkan kepada Yahudi melalui Resolusi PBB

Pagi hari ini, Resolusi DK PBB No. 1860 tentang serangan biadab terhadap Jalur Gaza telah dikeluarkan. Dalam redaksinya telah digunakan substil politik yang busuk, yang sebelumnya telah digunakan dalam Resolusi PBB No. 242, setelah serangan tahun 1967 M. Pada saat itu dinyatakan, “Harus menarik diri dari tanah…” padahal seharusnya, “Menarik diri dari seluruh tanah.” Tujuannya agar tetap menyisakan ruang untuk negara Yahudi menduduki wilayah yang dikehendakinya!

Begitulah Resolusi ini, yang tidak secara tegas menyatakan, “Harus menarik diri dari Gaza…” sebaliknya hanya menyatakan, “Harus menghentikan pertempuran (gencatan senjata)” yang berujung pada penarikan diri. Tetapi kapan dan bagaimana itu bisa terjadi? Lalu, bagaimana dengan Resolusi yang sengaja masih diliputi kekaburan untuk menghentikan serangan Yahudi, di mana Yahudi tetap tidak akan menghentikan serangan, meski sudah ada sejumlah resolusi yang jauh lebih keras dan tegas?!

Sekalipun sejumlah Resolusi DK PBB tidak pernah bisa menyelesaikan masalah, bahkan sudah sangat banyak resolusi-resolusi seperti ini yang tidak dilaksanakan oleh negara Yahudi… Namun, AS dan sekutunya tetap saja menolak dikeluarkannya resolusi apapun dari DK PBB. Semuanya itu agar bisa memberikan kemudahan yang cukup bagi negara Yahudi untuk menumpahkan darah dalam serangan biadabnya terhadap Gaza, hingga negara Yahudi itu bisa mewujudkan tujuannya.

Karena mengikuti dan membebek kepada AS, para penguasa negeri Muslim itu pun benar-benar patuh pada kemauan AS, dengan senang atau terpaksa, sehingga mereka pun tidak kompak, berselisih satu sama lain, dan tidak ada kata sepakat..

Namun, setelah negara Yahudi menyaksikan perlawanan dahsyat yang harus dihadapi, dan tampak bahwa dengan operasi militernya itu negara Yahudi tidak mampu mewujudkan apa yang ditargetkan, sehingga boleh jadi masalahnya berlarut-larut, sementara pemilihan umum mereka sudah di depan mata, dan mereka pun membutuhkan kondisi “kemenangan”, baik melalui peperangan maupun perdamaian, agar pemilihan umum tersebut bisa berlangsung di sela-sela itu, saat itulah AS aktif sekali mewujudkannya untuk mereka melalui DK PBB, sehingga Condolezza Rice menjadi magnet yang luar biasa dalam bebagai pertemuan dan meeting. Dia pun menggerakkan para penguasa yang menjadi kepanjangan tangannya, sehingga mereka bergegas pergi untuk menemui DK PBB; siang malam mereka bekerja keras dengan penuh semangat.. Mereka itulah yang sebelumnya memandang perlunya membantu Gaza dengan tentara-tentara mereka dengan pandangan bak orang pingsan dari kematian. Padahal andai saja saat itu ada satu atau setengah front pertempuran di sana yang dibuka oleh para penguasa itu, pasti entitas Yahudi itu akan rontok, atau bahkan lenyap tak berbekas..

Melalui resolusi ini, sebenarnya para penguasa (goodfather) itulah yang mewujudkan kepentingan Yahudi yang justru tidak bisa diwujudkan melalui serangan biadab mereka. Resolusi itu akan tetap melanggengkan tentara Israel di Gaza, dan memastikan blokade terhadap Jalur Gaza tetap berlangsung dari sejumlah faktor yang bisa menguatkan dan mempersenjatai mereka. Jangan tertipu dengan penjelasan yang dibungkus dengan indah, tentang dibukanya blokade makanan dari mereka.

Untuk mensosialisasikan resolusi ini, AS sengaja abstain, agar tampak bahwa AS seolah-olah tidak berada di belakang resolusi tersebut, sehingga para penguasa itu pun bisa menunjukkan kemenangan gemilang yang jauh dari pengaruh AS. Mereka sesungguhnya bohong. Setiap orang yang berakal dan mempunyai kesadaran politik pasti tahu, bahwa andai saja AS tidak berada di belakangnya, pasti AS sudah memveto resolusi tersebut.

Wahai seluruh kaum Muslim:

Sungguh tepat sekali apa yang disabdakan oleh manusia jujur dan terpercaya, Nabi saw.:

«إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»

“Jika Anda sudah tidak mempunyai rasa malu, maka lakukanlah apa saja.” (H.r. Bukhari, Ibn Majah dan Ahmad)

Para penguasa itu melihat Gaza memang harus diluluhlantakkan, di mana darah-darah orang tak bersalah berhak ditumpahkan. Mereka pun tidak menggerakkan tentaranya untuk membantu Gaza. Tidak juga melepaskan satu roket pun dari peluncurnya, bahkan lebih dari itu, justru mereka menghalang-halangi relawan untuk membantu Gaza… Ironisnya, mereka justru bergegas dan berlomba-lomba untuk mengeluarkan sebuah resolusi yang menghalangi Gaza dari akses senjata dan faktor-faktor yang bisa menopang kekuatannya.. Semoga mereka dilaknat oleh Allah; bagaimana mereka sampai bisa berpaling seperti itu?

Siapa pun yang melihat entitas Yahudi, perampas Palestina, dan dia tinggal berdekatan dengan para penguasa itu, pasti tahu persis keberlangsungan eksistensi Yahudi ini benar-benar digadaikan pada keberlangsungan para penguasa itu. Merekalah yang melindunginya, jauh lebih baik daripada melindungi diri mereka sendiri. Bahkan AS dan negara-negara Barat yang lain, yang mendukung entitas ini, tidak akan mempunyai pengaruh apapun, kalau seandainya ada satu saja dari para penguasa itu orang yang waras..

Wahai kaum Muslimin:

Kami telah mengingatkan berkali-kali. Kami ulangi lagi dan kami tambahkan, bahwa siapa saja yang ingin menghancurkan entitas Yahudi dan mengembalikan Palestina secara utuh ke pangkuan negeri Islam, maka dia harus berjuang untuk mewujudkan seorang penguasa yang ikhlas, negara yang benar, yaitu Khilafah Rasyidah. Sebab, seorang imam (pemimpin) itu bagaikan perisai, di mana orang berperang di belakangnya, dan kepadanya mereka berlindung, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw. Pada saat itulah, negara Yahudi itu tidak akan pernah lagi ada, bahkan negara-negara Kafir penjajah yang jauh lebih kuat dan digdaya ketimbang entitas Yahudi pun akan dihinadinakan.

Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Q.s. Qaf [50]: 37)

Pembantaian Gaza, Masalah Agama !

Masalah Palestina bukanlah persoalan agama, agama jangan dikait-kaitkan dengan masalah ini, pembantaian Gaza adalah persoalan kemanusiaan. Berulang-ulang opini ini dilontarkan oleh kelompok liberal-sekuler. Bahkan Presiden SBY pun ikut-ikutan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, usai bertemu dengan Duta Besar Palestina Fariz Mehdawi di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (5/1), tidak menginginkan konflik antara Israel dan Palestina diseret-seret kepada konflik antar agama.

Presiden Yudhoyono menegaskan bahwa konflik di Palestina merupakan konflik kedaulatan, bukanlah konflik antar agama. Lebih lanjut, Presiden Yudhoyono mengatakan serangan Israel adalah sebuah tindakan yang berlebihan sehingga mengakibatkan korban sipil yang begitu banyak.

Pernyataan Palestina bukan masalah agama jelas penyesatan pemikiran sekaligus penyesatan politik. Kita perlu tegaskan pembantaian lebih dari 900 saudara kita di Palestina adalah masalah agama. Memang pembantaian penduduk yang tidak bersalah yang kebanyakan diantaranya adalah anak-anak, penghancuran masjid, penggunaan senjata kimia posfor putih yang mengerikan adalah cerminan kebiadaban Israel yang merupakan persoalan kemanusiaan (humanity).

Namun dalam Islam persoalan humanity ini adalah persoalan agama (Islam). Islam mengharamkan pembunuhan manusia baik muslim atau non muslim tanpa alasan yang hak (yang dibenarkan) oleh hukum syara’. Begitu pentingnya nyawa ini sampai-sampai Rasulullah Saw. menjelaskan dengan gamblang dalam haditsnya bahwa hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan bagi Allah SWT dibanding dengan terbunuhnya nyawa seorang muslim tanpa alasan yang hak. Terbunuhnya satu orang muslim saja sudah dikecam oleh Rosulullah Saw. apalagi ratusan bahkan ribuan nyawa seperti yang terjadi di Palestina sekarang.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk muslim tapi juga non muslim. Dalam Islam, Ahlul Dzimmah, orang kafir yang menjadi warga negara Daulah Khilafah Islam harus dilindungi. Rasulullah Saw. sampai-sampai mengatakan siapa yang menyakiti mereka (non muslim ahlul dzimmah) berarti telah menyakiti Rosulullah Saw.

Pembantaian Gaza adalah persoalan agama dalam Islam. Berdasarkan syariah Islam haram hukumnya bagi seorang muslim membiarkan saudaranya sendiri didzolimi, disakiti, apalagi dibunuh secara masal seperti yang terjadi di Gaza saat ini. Rasulullah Saw menggambarkan hal ini dengan perumpamaan yang sangat sederhana dan mudah dimengerti.

Rasulullah Saw menggambarkan persaudaraan umat Islam (al-ukhuwah al-islamiyah) seperti satu tubuh. Kalau salah satu tubuh kita sakit , maka tubuh yang lain juga menjadi sakit. Tangis ,rasa sakit, kematian saudara kita di Palestina, juga berarti penderitaan kita. Apalagi di Palestina terdapat masjid al Aqsho yang jelas sangat berhubungan dengan masalah keagamaan seperti yang diabadikan dalam al-Qur’an surat al-Isra’.

Tidak hanya itu agama Islam memberikan solusi yang kongkrit kalau terjadi pembantaian yang dilakukan musuh yang menyerang dan menjajah negeri Islam seperti yang terjadi di Palestina sekarang. Hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib bagi tiap individu) penduduk yang diserang dan diduduki untuk melakukan perlawanan , jihad fi sabilillah sampai tetes darah penghabisan. Kalau mereka belum mampu, maka kewajiban itu berlaku bagi kaum muslim lain yang ada disekitarnya, hingga seluruh dunia.

Tentang masalah ini Imam Nawawiy menjelaskan, “Madzhab kami berpendapat, hukum jihad sekarang ini adalah fardlu kifayah, kecuali jika kaum kafir menyerang negeri kaum muslim; maka seluruh kaum muslim diwajibkan berjihad (fardlu ‘ain). Jika penduduk negeri itu tidak memiliki kemampuan (kifayah untuk mengusir mereka), maka seluruh kaum muslim wajib berjihad hingga kewajiban itu tersempurnakan (mengusir orang kafir).”[1]

Hal yang sama dinyatakan Imam Ibnu Taimiyyah, “Jika musuh telah memasuki negeri Islam, tidak ada keraguan lagi, penduduk terdekat wajib mengusir musuh. Jika tidak mampu maka penduduk yang lain wajib berjihad (hingga meluas ke seluruh negeri Islam). Sebab, seluruh negeri Islam adalah satu kesatuan yang tidak terpisah.”[2]

Jadi yang disebut masalah agama dalam Islam bukan hanya persoalan ibadah mahdhoh seperti sholat atau puasa. Pembunuhan terhadap manusia, kemiskinan, ekonomi, politik, pendidikan, semuanya adalah masalah agama yang diatur Islam secara rinci. Islam juga memberikan solusi yang kongkrit terhadap persoalan-persoalan itu.

Mengatakan Palestina bukan persoalan agama adalah pandangan sekuler. Pandangan ini ingin memisahkan Islam dengan politik, ekonomi, dan persoalan sosial. Inilah yang membuat agama menjadi mandul untuk menyelesaikan persoalan manusia. Agama kemudian hanya sekedar nilai-nilai moral yang bersifat anjuran.

Pandangan sekuler seperti ini sekaligus mencerminkan kekhawatiran musuh-musuh Islam. Sebab, kalau umat Islam menyadari masalah ini adalah masalah agama, umat Islam akan berbondong-bondong melakukan jihad fi sabilillah membebaskan Palestina. Inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam itu. Apalagi kalau jihad fi sabilillah itu dilakukan oleh seluruh umat Islam di dunia dibawah kekuatan politik Khilafah Islam. Kalau umat Islam melakukan ini Israel pasti bisa dikalahkan, termasuk negara pendukung utamanya Amerika Serikat dan sekutunya. Inilah yang mereka takuti.

Diamnya Para Pemimpin Arab Atas Gaza Adalah Memalukan

Pembantaian besar-besaran atas orang-orang yang kelaparan yang terperangkap dalam kegelapan adalah hal yang sangat memilukan bagi orang yang punya mata untuk melihat dan hati yang berdetak. Kejahatan yang kejam terhadap kemanusiaan ini harus dihentikan karena jika tidak, kita hanya bisa mengangkat tangan tanda putus asa dan menyerahkannya pada prinsip “kekuasaanlah yang benar.” Sebagai manusia, saya jijik oleh ketidakberdayaan atas apa yang disebut sebagai masyarakat internasional. Sebab sesungguhnya, segala undang-undang, konvensi, perjanjian internasional dan badan-badan internasional yang ada tampak tidak berdaya di hadapan agresi Israel yang tidak berperikemanusiaan itu. Sebagai seorang Arab, saya merasa marah dengan sikap diamnya para pemimpin negara-negara Arab dan pemerintahannya. Apakah orang Arab telah begitu lemah sehingga para pemimpin kami itu tidak bisa lagi menyatakan pendapat? Sentimen kemarahan kami tumpah ruah di jalanan tetapi hal itu tidak tercermin oleh pemerintahan Arab.

Ketika Menlu Israel Tzipi Livni ditanya apakah beberapa negara-negara Arab memberikan lampu hijau pada Israel untuk melancarkan serangan-nya di Gaza, ia ragu sebelum berkata, “negara-negara Arab moderat” berbagi tujuan dengan Israel untuk menghancurkan Hamas. Jika ada sebuah kebenaran dari pesan yang diberikannya maka keseluruhan negara Arab sedang dipecundang. Sejak kapan kata “moderat” diterjemahkan menjadi “pengecut?” Apakah untuk menjadi moderat berarti kita harus melepaskan hak-hak kita, meninggalkan keluarga (saudara-saudara) dan mencampakkan martabat kita? Apakah para pemimpin Arab itu lebih memilih permainan untuk saling menyalahkan daripada harus berdiri bahu membahu dengan para korban yang tidak berdaya menentang Presiden Mahmud Abbas yang menaiki sebuah tank Israel sambil melambaikan tangannya? Apakah kita layak mensejajarkan diri kita dengan para pahlawan seperti Umar bin Khattab, Khalid Bin Al-waleed, Ibnu-Zeyiad Tariq, Al-Mu’tassem Billah, Salahuddin atau orang-orang yang berani kehilangan nyawanya pada perang tahun 1948, 1967 dan 1973 untuk membela tanah Arab dan kehormatannya? Mereka harus kembali ke liang kubur mereka. Kita tidak layak menuntut kehormatan jika kita tidak menghormati diri kita dan sejarah kita sendiri.

Penolakkan para pemimpin Arab untuk menghadiri pertemuan puncak Arab serta mengusir duta besar Israel atau memutuskan hubungan diplomatik dengan negara Yahudi - semua itu adalah hal sangat minimal yang seharusnya mereka lakukan. Saya bukanlah seorang penggemar Hamas atau ideologinya. Saya percaya pada sebuah otoritas Palestina, namun serangan yang terjadi sekarang ini berada di luar politik. Ada sikap moral yang jauh lebih penting yang harus dihormati. Jika Anda menemui sebuah rumah yang sedang terbakar yang penuh dengan perempuan dan anak-anak, apakah Anda akan menayakan terlebih dulu afiliasi politik mereka atau menghilangkan ketakutan mereka sebelum anda menyelamatkan mereka? Saya tidak tahan bagaimana Barat bisa sangat toleran dan paham ketika mereka datang untuk memeriksa berkas-berkas nuklir Iran, sementara mereka pura-pura tuli, bisu dan buta pada hal yang merupakan sumber permasalahan Arab. Iran saja, yang rakyatnya miskin dan ekonominya buruk, dapat mendikte komunitas internasional, sementara kita yang lebih kaya, lebih banyak penduduknya, dan terletak lebih strategis dan secara historis adalah orang-arab yang kaya, sama sekali tidak memberikan pengaruh apapun..

Setiap jam angka kematian meningkat dan dan kesengsaraan bertambah. Sampai saat ini, lebih dari 760 Palestina mati dan hampir 3.000 yang terluka. Gedung-gedung Parlemen Gaza, gedung-gedung kementerian, mesjid-mesjid, sekolah-sekolah, universitas-universitas dan bahkan ambulan-ambulan telah menjadi target dari daftar yang dibuat Israel yakni untuk memusnahkan “infrastuktur Hamas,” menurut sebuah sumber mesin propaganda Israel. Dalam suatu hubungan masyarakat yang dilakukan dengan sinis, para pilot Israel menjatuhkan banyak selebaran peringatan yang memperingatkan penduduk sipil agar meninggalkan rumah mereka jika mereka tahu ada peluncur roket yang tersembunyi di dekat bangunan mereka. Tapi di wilayah yang sedemikian kecil, dan padat penduduk itu tidak ada tempat untuk berlari , tidak ada gunung-gunung atau gua-gua, tidak ada tempat perlindungan dari bom dan tidak ada basement. Rumah sakit-rumah sakit mereka yang telah lama kehabisan obat-obatan sejak lama dan tidak dapat lagi menanggulangi begitu banyak pasien yang datang dengan tubuh-tubuh yang rusak, dan sebentar saja mereka sudah kehabisan bahan bakar untuk generator, yang berarti bayi-bayi yang lahir prematur akan mati. Orang-orang antri berjam-jam hanya untuk beberapa potong roti; perempuan-perempuan harus mengumpulkan ranting-ranting pohon hanya untuk membuat teh, anak-anak menjadi trauma dan tidak bisa tidur, khawatir kalau ada rudal yang akan menghancurkan rumah mereka dan lewat di atas kepala mereka. Tapi tidak ada satu kekuatanpun yang diperhitungkan yang mau mendengarkan dan mau merubah.

Sabtu lalu, Dewan Keamanan PBB melakukan pertemuan darurat tapi seperti bisa diduga, Amerika menolak suatu kesepakatan bersama yang menyerukan dilakukannya gencatan senjata. Presiden George W. Bush telah membuat pendiriannya yang jelas: Situasi ini seluruhnya adalah kesalahan Hamas. Presiden terpilih Barack Obama, yang dalam masa kampanye mendengungkan “perubahan”, tetap tidak bersuara. Tidak peduli siapapun presidennya, kebijakan Amerika di Timur Tengah tampaknya akan tetap sama. Demikian pula, Uni Eropa telah menunjukkan bahwa dirinya tidak bergigi. Presiden Ceko yang baru menggambarkan serangan yang dilakukan Israel itu sebagai tindakan “defensive” dan bukan “offensive”. Ketika serangan dengan kekuatan penuh dan dengan tangan dingin dilakukan oleh militer yang paling kuat di wilayah untuk membunuh penuh para penduduk yang tidak berdosa dari arah darat, laut dan udara maka ini tidak bisa dikatakan lagi sebagai “pertahanan diri” dengan imajinasi apapun yang bisa tergambar. Penduduk Gaza yang berani, yang telah mampu untuk bertahan selama 18 bulan pengepungan dan yang pada saat ini tertawan oleh suara menakutkan dari pesawat-pesawat tempur F16, helicopter, suara gemuruh bom, rudal dan gempuran tank, berteriak meminta pertolongan. Mereka tidak ingin kata-kata manis, pidato-pidato hebat atau bahkan barisan demonstrasi yang dilakukan dengan maksud baik. Mereka menginginkan diakhirinya penderitaan mereka dan pemenjaraan diri mereka. Seperti kita juga, mereka hanya ingin hidup. Jika orang Arab memalingkan wajah-wajah mereka dari permohonan yang bernada putus asa itu, maka lebih baik kita isi saja kantung baju kita dengan koin-koin uang, kita isi hati kita dengan batu dan sebut diri kita sendiri sebagai orang Israel karena kita adalah orang-orang yang patut dicela sebagaimana yang mereka lakukan karena kehancuran Gaza….dan akhirnya kehancuran diri kita sendiri.

Saturday, January 10, 2009

Dukungan Para Penguasa Muslim Kepada Israel


“Seandainya saya seorang pemimpin Arab, saya tidak akan pernah menandatangani sebuah perjanjian dengan Israel. Adalah hal yang normal; kami telah merampas negara mereka. Benarlah, Tuhan menjanjikan tanah itu kepada kami, tapi bagaimana hal itu dapat menarik perhatian mereka? Tuhan kami bukanlah Tuhan mereka. Telah ada Anti - Semitisme, Nazi, Hitler, Auschwitz, tapi apakah itu kesalahan mereka? Mereka tidak melihat malainkan satu hal: kami telah datang dan telah mencuri tanah mereka. Kenapa mereka mau menerima itu?” David Ben Gurion – Perdana Menteri Israel yang pertama.

Pernyataan yang dibuat oleh Ben Gurion pada tahun 1948 ini mengungkapkan suatu persekongkolan besar mengenai Para Penguasa Muslim di mata kaum Zionis. Bahkan Ben Gurion, perdana menteri pertama Israel menganggap penanda tanganan sebuah perjanjian dengan seorang Penguasa Muslim dengan Negara Israel adalah suatu pengkhianatan atas masyarakat yang mereka wakili. Namun, pada hari ini para Penguasa Muslim itu tidak hanya puas dengan pengkhianatan yang mereka lakukan dengan menanda tangani perjanjian-perjanjian dengan Negara Israel, bahkan mereka juga bekerja untuk melakukan normalisasi hubungan antara Negara yang keberadaanya tidak sah itu dengan Negara-negara Muslim dan mereka juga melawan setiap penentangan atas Negara penjajah Israel. Hal inilah yang menyebabkan mengapa Ben Gurion menganggap para Penguasa Muslim itu berada satu tenda dengan Israel ketika dia mengatakan bahwa para penguasa Arab adalah barisan pertama pertahanan bagi Israel, dia juga mengatakan “Para rezim Muslim adalah artifisial dan mudah bagi kamu untuk menganggap remeh mereka” (2). Apa yang dia maksud sebagai artifisial adalah bahwa para penguasa Muslim itu telah dipaksakan keberadaanya atas ummat sejak dihancurkannya Khilafah Usmani pada tahun 1924.

Kegagalan para penguasa Muslim untuk merespon agresi yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh Negara-negara non-muslim atas ummat Islam telah mengungkap pengkhiatan para penguasa Muslim tersebut. Pengkhianatan paling tinggi kita saksikan selama perang yang terjadi baru-baru ini antara Israel dengan Hizbullah, ketika para penguasa Muslim menyalahkan Hizbullah sebagai pihak yang menyulut peperangan.

Perang tersebut sebenarnya disulut oleh Israel dengan rencananya untuk melucuti senjata Hizbullah, yang merupakan kekuatan militer satu-satunya di wilayah itu yang menentang Israel dan melindungi rakyatnya dari agresi Israel. Kebanyakan berita media barat yang bias menyalahkan Hizbullah sebagai pihak yang memulai perang tapi ketika kita memeriksa sebuah laporan PBB atas konflik itu sejak penarikan mundur Israel dari Libanon pada tahun 2000, laporan itu menyebutkan banyak pelanggaran yang dilakukan Israel:

“Berkaitan dengan pelanggaran udara, laporan tadi menyatakan bahwa pesawat-pesawat Israel melanggar garis perbatasan hampir setiap hari, dengan melakukan penetrasi jauh kedalam wilayah udara Libanon” (Jan-Juli 2001)

“Dengan kekuatiran yang sama, menurut Sekjen PBB, Israel telah melakukan pelanggaran udara atas Garis Biru (Blue Line), yang terus terjadi hampir setiap hari, dengan masuk jauh ke dalam wilayah udara Libanon. Pelanggaran udara ini tidak bisa dibenarkan dan menimbulkan kekuatiran pada masyarakat sipil, khususnya atas pesawat yang terbang rendah memekakkan telinga di atas wilayah pemukian.”(Jan-Juli 2002)

“Sekjen PBB juga mengutarakan kekuatirannya yang dalam, bahwa “ Israel melakukan provokasi dan pelanggaran wilayah kedaulatan Libanon yang tidak bisa dibenarkan. Hizbullah kemudian melakukan pembalasan dengan menembakkan rentetan senjata anti pesawat udara di sepanjang Garis Biru “adalah pelanggaran yang merupakan ancaman langsung bagi kehidupan manusia “, tambahnya.” (Jan-July 2004).

Sekjen PBB melaporkan pada Dewan Keamanan pada tahun 2001/2002/2004

Jadi menurut Sekjen PBB pada tahun 2004, adalah Israel yang merupakan provokator dan Hizbullah hanyalah membalas agresi Israel.

Berkaitan dengan “penculikan” atas para serdadu Israel, Komite Palang Merah Internasional (the International Committee of the Red Cross - ICRC) pada tahun 2006 dalam laporannya mengenai Israel menjelaskan:

“Di akhir tahun 2005, sekitar 11,200 rakyat Palestina ditawan oleh Israel dalam unit-unit interogasi, pusat-pusat tahanan sementara, kamp-kamp tahanan militer, penjara-penjara dan markas-markas kepolisian”.

“Dari 12,192 tahanan yang dikunjungi, termasuk diantaranya 7,504 yang dimonitor secara individual (131 orang dari mereka adalah wanita dan 565 orang yang belum dewasa)”

Dokumen itu menyatakan bahwa ICRC mengeluarkan dokumen-dokumen pada 17,882 tahanan, sehingga jumlah total tahanan yang ditawan secara illegal mungkin lebih besar lagi jumlahnya. Angka-angka yang dikutip itu adalah angka para tahanan dimana ICRC memiliki aksek untuk itu. Ada sejumlah besar orang Muslim yang telah hilang dan karena itu tidak dilaporkan dalam angka-angka tersebut. Kebanyakan dari para tahanan itu telah diculik di jalan-jalan di Palestina atau di Lebanon. Adalah tidak berarti apapun bila 565 orang diantaranya adalah orang yang belum dewasa. Jadi, ketika Israel mengklaim bahwa negaranya telah diprovokasi untuk berperang dengan Lebanon dikarenakan penculikan tiga tentara Israel oleh Hizbullah, adalah merupakan pemutar balikkan fakta yang sangat nyata. Adalah jelas terlihat bahwa Israel adalah sang provokator.

Fakta-fakta yang diutarakan di atas telah diketahui dengan luas di wilayah itu dan khususnya juga oleh para penguasa Muslim, namun mereka tetap menyalahkan Hizbullah sebagai pihak yang menyulut perang, sehingga ini dijadikan alasan bagi mereka untuk tidak melakukan apapun. Mereka bahkan memecah belah umat dengan menyebutkan isu sekterian diantara Sunni dan Shiah, dengan menyoroti kenyataan bahwa Hizbullah adalah Shiah dan didukung oleh Iran. Alasan utama bagi sikap diam mereka adalah bahwa mereka tidaklah melayani kepentingan ummat ini, melainkan mereka melayani kepentiang tuan-tuan penjajah mereka : Amerika dan Inggris.

Menurut Abdullah Mohamed, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Kuwait:

“Menyalahkan Hizbollah adalah sebuah pesan kepada Amerika dari Negara-negara itu, yang mengatakan bahwa merekalah sumber kestabilan dan mereka akan terus melayani kepentingan Amerika di wilayah itu,”

Pernyataan Presiden Mubaraks mencerminkan pendirian seorang penguasa Muslim di wilayah itu:

“Mereka yang mendesak Mesir untuk berperang mempertahankan Libanon atau Hizbullah tidak sadar bahwa waktu berpetualang ke luar negeri sudah usai,”
“Mereka yang meminta kami untuk berperang akan membuat kami kehilangan semuanya dalam sekejap mata,”

“Tentara Mesir adalah hanya untuk melindungi Mesir dan ini tidak akan berubah,”

Press Trust of India (PTI) - Kairo, 26 July, 2006

Para penguasa ini pernah mempromosikan persatuan Arab dan mereka juga mengklaim mengutarakan persatuan Muslim melalui Organisasi Konperensi Islam (Organisation of Islamic Conferences -OIC). Tapi ketika mereka ditantang untuk bertindak untuk mempertahankan kesatuan itu mereka menunjukkan sikap egoisnya. Pernyataan Mubarak mengingatkan kita akan kata-kata Musharaf ketika Afghanistan diinvasi oleh Amerika tahun 2002, dia mengatakan: “Pakistan adalah yang utama”.

Tapi jangan terkecoh untuk berpikir bahwa mereka akan mempertahankan negara mereka, sebagaimana yang kita tahu yang terjadi atas Irak, dimana Sadaam Hussein tidak mengerahkan tentaranya untuk mempertahankan negaranya atas invasi yang dilakukan pasukan Amerika, dan adalah masyarakat dan para prajurit secara pribadi yang mengangkat senjata untuk mempertahankan Baghdad tahun 2003. Sebenarnya, pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh Raja Abdullah dari Yordania , Raja Abdullah dari Saudi Arabia dan Hosni Mubarak yang mengkritik Hizbullah secara mutlak memberikan justifikasi bagi serangan oleh Israel dan negara itu menganggapnya sebagai lampu hijau untuk menginvasi Libanon.

Para Penguasa Muslim telah banyak membuat alasan untuk tidak melakukan apapun, alasan yang utama adalah karena superioritas militer Israel dan bahwa berkonfrontasi dengan Israel akan membahayakan ekonomi nasional mereka. Mari kita lihat opsi-opsi apa yang ada bagi para penguasa itu:

· Militer – Konfrontasi Langsung

· Isolasi Ekonomi dan Budaya bagi Israel.

Militer

Angka-angka yang dikeluarkan di bawah ini menunjukkan bahwa tentara Muslim jika digabungkan akan mengalahkan jumlah personil angkatan bersenjata Israel dengan perbandingan 68 tentara Muslim: 1 tentara Israel. Negara-negara muslim Muslim mengeluarkan 17 kali lebih banyak anggaran militernya dibandingkan dengan Israel. Jadi jelaslah bahwa suatu gabungan tentara Muslim akan menjadi kekuatan militer yang dominan di wilayah itu. Bahkan dengan teknologi militer mereka yang maju, Israel tidak dapat mengatasi kekuatan militer yang begitu besarnya.




Juga, setelah kita lihat selintas di perbatasan Israel jelaslah bahwa sebenarnya tidak mungkin bagi Israel untuk mempertahankan dirinya sendiri dari serangan darat yang dilakukan serentak dari Mesir, Yordania dan Syria. Anda mungkin akan heran jika dikatakan negara-negara itu belum pernah terlibat perang dengan Israel sebelumnya. Tentu saja pernah, tapi peperangan-peperangan itu sebenarnya adalah “perang yang telah dibuat scenario-nya” dengan tujuan mencari perdamaian bagi Israel.

Hal ini disebutkan oleh Mohammed Heikal dalam bukunya “The Road to Ramadan” (Jalan Menuju Ramadhan) – dimana dia mengutip ucapan salah satu jendral Sadat, Mohammed Fouwzi yang memberikan analogi atas seorang samurai yang menggambarkan dua pedang – sebuah pedang pendek dan sebuah lagi pedang panjang untuk suatu pertempuran. Fouwzi mengatakan bahwa peperangan ini (perang 6-hari tahun 1967) adalah suatu pedang pendek, yang menunjukkan sebuah pertempuran terbatas dengan motif-motif tertentu. Memang, pengkhianatan yang jelas ini yang dilakukan kepada ummat oleh Mesir sebanding dengan yang dilakukan Turki yang membantuTurki dalam latihan militernya. Seperti yang diberitakan oleh kantor berita Turki;

“Sedang dibuat perjanjian militer yang bernilai milyaran dolar, kerja sama intelejen, manuver-manuver dan operasi-operasi rahasia antara Turki dan Israel. Pesawat-pesawat tempur Israel terbang di atas Konya. Proyek perisai rudal juga menjadi agenda dari kedua negara itu; masih menjadi pertimbangan bahwa rudal-rudal itu akan ditempatkan antara perbatasan Iran dan Syria. Pada wilayah seluas 20 ribu km2 di perbukitan Konya, ada banyak manuver ratusan pesawat tempur yang sedang membuat serangan nuklir. Lusinan contoh seperti ini dapat ditunjukkan. Singkatnya, Turki adalah teman dan sekutu Israel ” – (http://www.zaman.com/?bl=columnists&alt=&trh=20060824&hn=35945)

Blokade Ekonomi

Ini mungkin yang menyatakan sesuatu yang jelas tetapi daratan, laut dan udara Israel terkunci oleh negara-negara Muslim. Jadi Israel bergantung pada negara-negara Muslim untuk hidup dan akses ke dunia luar. Apa yang akan menjadi akibat dari bloade laut, darat dan udara?

Blokade Laut

98% (menurut beratnya) dari ekspor dan impor Israel adalah melalui perjalanan laut (www.jewishvirtuallibrary.org). Seperti halnya Angkatan Laut Israel yang mengenakan blokade laut di Libanon, maka akan mudah pula bagi Mesir, Suriah dan Turki untuk mengenakan blokade laut bagi Israel hingga ke laut Mediterania. Israel mengimpor 90% dari minyak yang dikonsumsinya, yang mayoritas diimpor dengan tanker-tanker minyak. Blokade ini akan memiliki dampak yang besar pada pemenuhan energinya. Pelabuhan-pelabuhan minyak yang utama adalah Ashkelon dan Eilat, dimana saat ini pelabuhan Ashkelon menerima minyak dari tanker-tanker lewat Bosphorus, yang dikendalikan oleh Turki. Pada tahun 1989, Mesir mensuplai sekitar 45% kebutuhan minyak Israel tetapi secara bertahap telah diganti dengan minyak Rusia, dan saat ini ia masih sekitar 26-30%. Minyak tanker yang tiba di Eilat harus melalui Teluk Aqaba yang perairannya yang dikendalikan oleh Arab Saudi dan Mesir. Ini adalah terusan sempit dan suatu blokade dapat dengan mudah dilaksanakan. Pelabuhan Eilat adalah strategis karena akan menjadi kunci dari titik pusat distribusi untuk minyak di Asia Tengah ke pasar dunia, BP (British Petroleum) berencana untuk memompa minyak melalui ladang minya Baku-Tbilisi-Ceyhan dan pipa gas bumi melalui Turki lewat pipa minyak Tipline Israel ke Eilat. Semua rute itu memerlukan persetujuan dari negara-negara Muslim. Dengan melanjutkan tema persyaratan energi ini, Mesir menandatangani perjanjian dengan Israel pada bulan Juli 2005 memasok Israel antara “1,7 sampai 3 miliar kaki kubik gas alam setiap tahun selama 15 tahun.” .”( www.arabicnews.com).
Blokade ini hanya akan membatalkan perjanjian yang berikut ini, yang benar-benar menunjukkan betapa para pemimpin itu adalah para pengkhianat yang membantu Israel:

“Kapal-kapal Israel, dan kargo-kargonya yang menuju atau berasal dari Israel, menikmati hak lewat gratis melalui Saluran Suez dan pendekatan melalui Teluk Suez dan Laut Tengah berdasarkan Konvensi Konstantinopel tahun 1888 “

“Pihak-pihak yang terkait menganggap selat Tiran dan Teluk Aqaba untuk menjadi perairan internasional ke semua bangsa secara leluasa dan memiliki kebebasan navigasi dan penerbangan yang tidak bisa dicabut.

“disepakati bahwa hubungan semacam itu akan mencakup penjualan minyak komersial oleh Mesir kepada Israel, dan bahwa Israel akan berhak sepenuhnya untuk melakukan tawaran minyak yang berasal dari Mesir ” (Perjanjian Perdamaian antara Negara Israel dan Republik Arab Mesir - 26/03/1979)

Perjanjian Perdamaian Antara Negara Israel dan Republik Arab Mesir - 26/03/1979

Blokade laut juga akan membatasi pengiriman dari air yang sangat vital dibutuhkan dari Turki ke Israel. Israel dan Turki menandatangani perjanjian ‘air untuk senjata’ pada bulan Januari 2004 di mana Turki akan “mengkapalkan 50 juta meter kubik air per tahun selama 20 tahun dari sungai Manavgat di Anatolia” (Guardian UK) ke Israel dalam tanker-tanker air.

Blokade Darat

Perjanjian perdagangan berikut berarti bahwa barang-barang diperdagangkan secara lintas batas antara Israel Mesir dan Yordania:


Kesepakatan Perdagangan dan Niaga (08/05/1980) - “Untuk memastikan pergerakan secara bebas barang-barang antara kedua negara, masing-masing pihak akan menyediakan barang bagi pihak lain, sesuai dengan hukum, peraturan dan prosedur yang berlaku di negaranya, yang berkaitan dengan ekspor dan impor barang-barang dan komoditas “. “Kedua negara akan saling menyetujui satu sama lain dengan perlakuan paling baik dari negaranya “.

Dampak dari perjanjian ini adalah peningkatan ekspor dari Israel ke Mesir dan Yordania menyebut laporan sebagai berikut:

“Ekspor Israel ke Mesir dan Yordania pada Januari-Mei 2006 meningkat, berkat adanya perjanjian ekspor Wilayah Industri Yang Memenuhi Syarat (Qualifying Industrial Zone -QIZ) antara Israel dengan kedua negara tetangga …. Ekspor ke Mesir meningkat 93% menjadi US $ 48,7 juta “(http://www.port2port.com)

Blokade Darat akan mempengaruhi perdagangan, pos dan komunikasi di antara Israel dan masyarakat internasional.

Blokade Udara

Perjanjian Transportasi Udara - 08/05/1980 - “Untuk terbang tanpa pendaratan melewati seluruh wilayah dari Pihak yang menanda tangani perjanjian.”. “Untuk melakukan pemberhentian di wilayah tujuan non lalu lintas yang disebutkan…

”Perjanjian untuk tujuan menurunkan dan mengambil penumpang internasional, kargo dan surat dari dan ke wilayah lainnya dari pihak yang menanda tangani kontrak.”

Penerbangan Internasional dari dan ke Israel memanfaatkan koridor udara lewat negara-negara Muslim. Menerapkan blokade akan memberikan dampak yang besar bagi pariwisata dan saluran-saluran komunikasi yang vital, yang diperlukan negara Israel untuk bisa beroperasi.

Negara-negara Muslim telah mendukung seruan untuk memboikot barang-barang Israel pada tingkat individual, tetapi tidak ada yang dilakukan pada tingkat negara. Sehingga umat dapat secara sangat efektif memboikot barang-barang Israel dan Amerika. Begitu hebatnya akibat boikot itu pada produk-produk Amerika oleh umat Islam di Arab Saudi sehingga pada tahun 2002 mengakibatkan menurunnya ekspor sebesar $ 2 miliar US pada eksport Amerika. Namun ini kecil artinya apabila kita bandingkan dengan investasi dari negara-negara Teluk di Amerika Serikat.

Dilaporkan oleh koran Pravda, Rusia bahwa total aset dari enam negara-negara Teluk Persia yang dievaluasi berjumlah 1,4 triliun dolar, 75% di antaranya berada di negara-negara G8. Angka tersebut mungkin sekali dua kali lipat atau bahkan lebih jika kita masukan investasi tidak langsung dan kerjasama yang dinikmati oleh Negara-negara Teluk Adanya tuntutan perkara senilai $ 1 triliun yang dikenakan atas Saudi Arabia oleh keluarga-keluarga yang terkena serangan atas Amerika menunjukkan bahwa investasi Saudi di AS mungkin sekitar $ 750 miliar (Agustus 2002-BBC).

Blokade Budaya

Pada bidang-bidang seperti Pendidikan, Media dan Budaya, telah ditanda tangani perjanjian antara Israel dan para tetangga negara Muslimnya. Tujuan dari perjanjian ini adalah untuk melunakkan kebudayaan Islam dan membuat Israel lebih dapat diterima di masyarakat Muslim. Berikut adalah tiga contoh dari perjanjian semacam itu:

Pendidikan-Protokol Mengenai Pendirian Pusat Akademi Israel di Kairo (25/02/1982) - “Kedua pihak telah sepakat untuk membentuk sebuah pusat akademik Israel di Kairo …. Pusat Akademi itu akan didirikan oleh Masyarakat Oriental Israel… .. “,” Untuk memberikan keramahan dan bantuan kepada warga negara Israel mengenai beasiswa dan kunjungan bagi ilmuwan. Melaksanakan seminar bagi para akademisi untuk kunjungan ilmuwan dan peneliti dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertemu dan bekerja sama dengan para akademisi dan peneliti Mesir”.

” Media-Protokol Kerjasama Antara Israel Dan otoritas Penyiaran Radio dan TV Persatuan Republik Arab Mesir - 16 / 02/1982 - “Kedua pihak akan bertukar program Radio dan Televisi Televisi program dan film, yang mencerminkan budaya, sosial, ekonomi dan kehidupan ilmiah di Negara-negara mereka”.

Kebudayaan- Perjanjian Kebudayaan Antara Negara Israel - 08/05/1980 - “kedua belah pihak akan mendorong dan mendukung kegiatan dan olah raga kaum pemuda di lembaga-lembaga masing-masing negara “.

“Kedua pihak akan mendorong kerjasama dalam dalam bidang budaya, seni dan ilmiah…” … “Pertukaran penerbitan budaya, pendidikan dan publikasi ilmiah”.

Ini tidak berakhir di sini saja. Kita tahu bahwa tujuan pembentukan PLO adalah untuk mengalihkan tanggung jawab membela Muslim Palestina dan melindungi Masjid Al-Aqsa kepada organisasi nasionalis seperti PLO. Sebenarnya, hal ini menjadi tanggung jawab para pemerintah Muslim yang jelas memiliki kemampuan untuk melakukannya tetapi berusaha untuk memalingkan harapan itu dari masyarakatnya sendiri. Demikian pula, sikap yang diambil ketika timbulnya isu untuk memboikot Israel adalah untuk mendorong umat untuk memboikot barang-barang Israel dan bahkan barang-barang Amerika karena dukungan dari produsen barang-barang itu untuk mendukung Israel.

Tetapi mereka sendiri telah menipu ummat dengan mengimpor produk-produk Israel di bawah label perusahaan-perusahaan Muslim. Dilaporkan pada tahun 2002 bahwa total barang-barang dari Israel senilai $ 150 juta diimpor ke Arab Saudi sendiri melalui 72 perusahaan di Yordania, 70 perusahaan di Siprus, 23 perusahaan di Mesir dan 11 perusahaan dari Turki. Rezim-rezim itu negara ketiga negara untuk menyamarkan sumber barang-barang itu (Deutsche Presse-Agentur).

Kesimpulan

Seseorang mungkin berpikir bahwa ini adalah pandangan yang disederhanakan dari suatu keadaan dan tidak mudah untuk menggerakkan tentara dan adalah sulit untuk menerapkan sanksi dan blockade pada sebuah negara. Jika itu masalahnya maka mengapa para penguasa Muslim itu berkumpul untuk membuat kekuatan dan bergabung dengan koalisi Anglo Amerika (Inggris Amerika) untuk menjatuhkan Sadaam dari Kuwait. Sesungguhnya di mata PBB dan masyarakat internasional, invasi ke Kuwait oleh Sadaam Hussien tidak berbeda dengan invasi ke Libanon oleh Israel. Apakah mungkin bagi PBB untuk menjatuhkan sanksi, menerapkan zona larangan terbang dan blokade laut selama 10 tahun tanpa kerjasama dengan para penguasa Muslim? Sama seperti Israel, Irak juga dikelilingi oleh negara-negara Muslim. Adalah para pengusa muslim itu lah yang sebenarnya menerapkan sanksi. Dapatkah anda mengingat para penguasa yang menentang atau melanggar sanksi-sanksi itu?

Saat ini pertanyaan yang seharusnya ada di pikiran anda adalah bagaimana kita membebaskan diri dari para pemerintah itu. Sejumlah opsi telah diusulkan kepada kami, seperti tidak memberikan suara bagi mereka. Kami telah melihat apa yang disebut pemilu demokratis di dunia Muslim sejak akhir Perang Dunia II namun mereka belum menghasilkan perubahan. Mereka hanya menghalangi perubahan dan memperkuat status quo. Ada berbagai upaya untuk membawa perubahan seperti dengan perjuangan bersenjata, tapi ini hanya menciptakan ketidakstabilan dan kehancuran dan membawa kita kembali ke tempat kita mulai. Masalahnya adalah bahwa umat Islam telah jatuh ke dalam perangkap dengan mengambil kebijakan-kebijakan dari para rezim korup itu dan para pendukungnya dari Barat yang selalu menyesatkan mereka. Tapi kebijakan kami, sebagaimana yang lainnya, terletak pada contoh yang diberikan oleh Nabi Muhammad (SAW) yang kita cintai.

Hanya Khilafah-lah, yakni sistem pemerintahan Islam, yang dapat menyatukan tanah kaum Muslim dan menghilangkan batas-batas negara yang telah dibuat diantara umat Islam agar mereka dalam keadaan terus menerus lemah dan terbelakang.

Hanya pemerintahan Khilafah-lah yang akan membentuk sebuah pemerintahan independen yang lepas dari kontrol Barat dan yang berkewajiban untuk melindungi kehidupan dan kehormatan kaum Muslim dan warga negara lainnya. Solusi-solusi yang diusulkan sebelumnya adalah dimaksudkan untuk memastikan bahwa perubahan menyeluruh tidak pernah bisa dicapai.

Hizbut-Tahrir adalah sebuah partai politik global yang beroperasi di berbagai negara di dunia Muslim yang bertujuan untuk memimpin umat untuk mendirikan kembali Khilafah. Partai ini bekerja secara politik untuk menyatukan masyarakat pada semua level dalam upaya mereka untuk mendirikan negara dan membawa perubahan menyeluruh.

Temukan caranya bagaimana Anda bisa bekerja dengan Hizbut-Tahrir untuk mendirikan kembali Khilafah dan membebaskan tanah kaum Muslim dari para penguasa Muslim dan para tuan-tuan penjajah mereka.

Muslim meriwayatkan dari al-A’araj, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya imam adalah perisai yang dibelakangnya umat berperang dan dan bersamanya umat melindungi diri mereka.”

ISRAEL BIADAB!


Ratusan warga Palestina syahid diterjang bom-bom Israel. Dunia diam. Saatnya umat Islam bangkit bersatu membangun kekuatannya sendiri.

ImageKebengisan dan kebrutalan Israel terus berlang-sung hingga Sabtu (3/1/2009) di Jalur Gaza. Tujuh hari sudah Israel dengan membabi buta mengebom kawasan tersebut. Mereka sepertinya belum puas telah menewaskan 434 orang dan melukai 2.240 orang termasuk anak-anak dan remaja. Bahkan kebiadaban itu kian terlihat ketika jet-jet tempur dan helikopter-helikopter bangsa kera ini memborbardir rumah sakit. Bayi-bayi bergelimpangan diterjang misil-misil dan pecahan bom Israel. Pasien-pasien tak jelas harus dipindahkan ke mana. Tak cukup itu, tentara Israel pun kini menjadikan masjid sebagai sasaran pemboman. Lebih dari 500 lokasi telah hancur.Hampir tidak ada lagi tempat yang aman di Jalur Gaza.

Raid Samir, seorang pemu-da Gaza, menggambarkan kondisi Gaza dengan menga-takan, "Musik tahun baru kami adalah deru suara pesawat tempur Israel, kembang api tahun baru kami adalah percikan-percikan sinar dari misil-misil Israel." Pada tahun baru, rakyat Palestina biasanya meng-ucapkan, "Kulu am wa antum bi khoir" (Semoga Anda selalu dalam kebaikan). Tapi tahun ini, warga Palestina di Gaza saling mengucapkan "Kulu qasif wa antum bi khoir" (semoga Anda selamat setelah pengeboman). Tahun baru Hijrah kemudian Masehi menjadi suasana yang buruk di Jalur Gaza.

Banyak di antara mereka merasa diabaikan dan dikhianati oleh masyarakat internasional. Asad Abu Sharih, seorang profesor dan pengamat politik mengatakan, dunia seharusnya membuka mata, daripada menari-nari dan minum-minum. “Mereka seharusnya meng-hentikan sebuah holocaust yang sedang dialami rakyat Gaza. Dunia internasional seharusnya sudah menghentikan dan melin-dungi hak-hak kami di bawah penjajahan Israel," kata Asad.

Wartawan BBC Rushdi Abou Alouf melaporkan, kondisi Gaza sangat buruk. Di mana-mana ada pesawat Israel, menghancurkan setiap tempat. “Anda dapat melihat asap dari utara hingga ke selatan, dari barat hingga ke timur. Semua orang benar-benar panik. Saat ini perhatian semua orang tertuju untuk men-dapatkan tempat yang aman untuk melindungi keluarga mereka. Gaza tak punya tempat berlindung,” katanya.

Image"Kematian mengintai kami semua. Saya sendiri panik dan rasanya ingin berteriak, tapi tak bisa. Saya harus kuat demi anak-anak saya," kata seorang ibu sambil memeluk erat Sami, pute-ranya yang baru berusia tiga tahun dan tidak berhenti me-nangis. "Tidak ada jeritan ataupun air mata yang bisa menyela-matkan kami. Berdoa. Doalah satu-satunya senjata kami yang tersisa," kata Abu al-Banna, warga setempat.

Sementara itu, juru bicara militer Israel Avi Benayahu mengonfirmasi bahwa mereka telah melancarkan serangan-serangan udara dan mengatakan bahwa sasaran-sasarannya ada-lah ''infrastruktur teroris''.

Pengeboman itu, lanjutnya, merupakan balasan dari serangan roket yang dilancarkan kelompok militan di Gaza ke Israel. Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak dalam jumpa pers menyatakan, serangan akan terus ditingkatkan jika kondisi di lapangan membu-tuhkan. ''Ada waktu untuk tenang dan ada waktu untuk berperang. Dan, sekarang adalah waktu untuk berperang,'' tegasnya.

Sabtu (3/1) malam Israel mulai melancarkan serangan darat. Pasukan arteleri mulai masuk ke Gaza, 23 warga Palestina syahid.

Para pemimpin Hamas menyerukan serangan balasan, termasuk serangan bunuh diri. ''Kami akan membalas sampai titik darah penghabisan,'' tegas juru bicara Hamas Fawzi Barhoum. Imbauan itu langsung disambut dengan tembakan roket-roket pejuang Palestina di Qassam ke wilayah Israel. Hingga hari ketujuh, empat orang Israel tewas dan beberapa terluka. Begitu Israel melancarkan serangan darat, Hamas menyatakan ini akan menjadi kuburan bagi tentara Israel.

Serangan brutal penjajah Israel ini mengundang aksi solidaritas umat Islam di dunia Arab dan seluruh dunia. Di Tepi Barat, wilayah lain yang dikuasi faksi Fatah penduduk turun ke jalan. Ratusan warga Jordania dengan marah mendatangi kan-tor perwakilan PBB di kota Amman. ''Hamas, jangan menye-rah. Kalian adalah canon dan kami siap menjadi peluru-peluru kalian,'' teriak mereka sambil mengibar-ngibarkan bendera hijau Hamas.

Di Beirut, Libanon, puluhan pemuda memenuhi jalan-jalan sambil menembakkan senjata ke arah wilayah Israel. Sementara itu, di kamp pengungsi Palestina di Yarmouk, Suriah, ratusan orang meminta negara-negara Islam bersatu melakukan serangan balasan ke Israel.

Di Yaman, puluhan ribu massa berkumpul di sebuah stadion di kota Sanaa, ibukota negeri itu. Para pengunjuk rasa meneriakan kalimat-kalimat anti-Israel dan mengkritik para pe-mimpin Arab yang gagal mem-bela rakyat Palestina. "Berapa lama lagi sikap diam mereka akan berakhir? Pemimpin-pemimpin Arab bangkitlah!" teriak mereka.

Sedangkan pejuang Hizbullah yang memenangkan perang 33 hari dengan Israel tahun 2006 lalu menyebut serangan Israel ke Jalur Gaza sebagai kejahatan perang dan genosida. Hizbullah mendesak komunitas dan institusi internasional segera mengambil tindakan terhadap Zionis Israel. Dalam pernya-taannya Hizbullah menyerukan negara-negara Arab untuk menentukan tindakan tegas dan mengerahkan upayanya untuk melawan tindakan barbar Israel yang dilindungi oleh AS.

Di Sudan, seorang perem-puan mengenakan ikat kepala Hamas di kepalanya, mengata-kan pada Al-Manar TV, “Di mana para pemimpin Arab? Mana tindakan mereka? Cukup sudah kutukan dan tudingan. Tunjuk-kan dukungan pada Gaza,” katanya.

Aksi turun ke jalan pun menentang agresi Israel terjadi di Inggris, Australia, Indonesia, Pakistan, India, Irak, Iran, Afganis-tan dan beberapa negara lainnya. Mereka menyebut Israel sebagai “the real terrorist.” Bendera Ame-rika dan Israel dibakar. Beberapa aksi malah dibubarkan oleh pemerintah setempat dengan represif.


Sekadar Kecaman

Sungguh ironis. Kebrutalan itu hanya menjadi bahan tontonan dunia internasional. Para penguasa di negeri-negeri Mus-lim, terutama yang ada di wilayah sekitar Palestina, seakan buta terhadap kejadian ini. Mereka tuli terhadap jerit penderitaan bangsa Palestina. Mereka tak berbuat banyak. Mereka tak berusaha menghentikan kebia-daban Israel misalnya dengan mengirimkan tentaranya atau membuka pintu perbatasan bagi masuknya para pejuang yang haus akan mati syahid.

Yang muncul hanyalah ke-caman demi kecaman. Kutukan demi kutukan. Tidak ada makna-nya apa-apa bagi bangsa yang dalam Alquran disebut bangsa babi ini. Hampir tidak ada yang tidak mengecam. Uni Eropa mendesak kedua pihak, Israel dan Palestina, menghentikan upaya saling menyerang. Menurut AFP, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy memgutuk keras provokasi yang tak bertanggung jawab. Ia sangat menyesalkan banyak korban sipil yang tewas. Rusia, melalui Kementerian luar negerinya, me-nyatakan minta segera disudahi aksi militer di Jalur Gaza.

Sekutu Israel, Amerika Serikat pun Sabtu (3/1) malah merestui kebrutalan Israel. Bahkan AS pun mendukung serangan darat Israel. “Saya kira setiap langkah yang mereka ambil, apakah serangan udara atau darat, merupakan bagian dari operasi. Itu semua terserah Israel,” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Gordon Johndroe. PBB pun bak macan ompong dan peot.

Sedangkan, Indonesia pun ikut mengecam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menga-takan ia telah mengirim surat secara kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon dan DK PBB agar kedua lembaga itu mengeluarkan resolusi bagi Israel untuk menghentikan serangannya ke Jalur Gaza.

Yang lebih ironis, negara-negara seolah mengamini apa yang terjadi di Gaza sebagaimana Amerika mendukung Israel. Tak mengherankan, anggota par-lemen Yaman, Abdul Aziz Jabbari, mengecam kebungkaman para pemimpin negara Arab. Dalam wawancaranya dengan Televisi Al Alam, Jabbari menilai sikap para pemimpin Arab tersebut sangat memalukan karena mereka hanya berdiam diri sementara Gaza tenggelam dalam darah.

Presiden Libya Muammar Gaddafi menyebut para pemim-pin negara Arab sebagai pengecut. Ia menyatakan para pemimpin negara Arab sudah gagal dalam mendukung per-juangan rakyat Palestina. Ia mengatakan para pemimpin Arab tidak tahu malu. Dan memang tidak ada hal konkret yang dilakukan dunia Arab.


Persengkokolan

ImageSerangan teroris Israel sebenarnya tidak berlangsung spontan. Pejabat Israel telah membocorkan informasi tentang akan adanya serangan sejak dua minggu sebelumnya di mana serangan itu akan dilakukans secara membabi buta dan tidak akan ada siapapun yang selamat. Bahkan pejabat Israel juga menyebutkan bahwa Israel menunggu cuaca yang baik agar bisa membantai dengan baik. Sabtu pagi 27 Desember menjadi hari yang mengerikan warga Gaza.

Salah seorang pejabat pen-ting Israel, beberapa saat setelah penyeranganya ke Gaza menga-takan, “Kami telah mengemuka-kan rencananya kepada sejumlah Negara Arab dan Barat, sebelum kami memutuskan untuk menye-rang Gaza”. Pernyataan ini diung-kapkankanya di tengah aksi pembantaian terhadap rakyat Palestina di Gaza dan disaksikan mata dunia. Seolah-olah Tel Aviv menyatakan, “Kami tidak sendirian dalam membantai rakyat Palestina.”

Secara tidak langsung peja-bat Israel itu ingin mengatakan bahwa negara-negara Arab ada di belakang mereka, minimal telah mendapat restu. Dua hari sebelum serangan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni bertemu dengan Presiden Mesir Husni Mubarak. Melalui Mesir lah, Israel mencoba menjinakkan Hamas agar mau menuruti kehendak-nya. Tapi Hamas menolak dan Gaza diblokade.

Mesir marah besar ketika Hamas menolak berbicara de-ngan Fatah bulan lalu yang sedianya dijadwalkan berlang-sung di Mesir. Media Arab melaporkan, Husni Mubarak juga menuduh Hamas telah melaku-kan kesalahan besar ketika menolak adanya gencatan senjata. Harian Al Quds Al Arabi yang berpusat di London juga melaporkan bahwa Mesir tidak akan memprotes serangan Israel, yang bertujuan untuk menja-tuhkan pemerintahan Hamas di Gaza.

Dalam wawancara dengan Al-Jazeera, Azzam Tamimi, direktur Institut Pemikiran Politik Islam (Institute of Islamic Political Thought) dan pakar masalah Palestina, menggambarkan pengamatannya sebagai berikut, ”Saya duga operasi militer ini tidak hanya terbatas tapi juga berusaha untuk mengganti penguasa di Gaza, kalau tidak, kenapa Israel juga menargetkan jajaran kepolisian? Yang menem-bakkan roket ke Israel bukanlah para polisi dan polisi bertugas untuk menjaga keamanan di Gaza. Operasi ini ditujukan untuk menciptakan kekacauan dan kemungkinan besar Mesir dan Ramallah berkolusi dalam hal ini. Tidak mungkin berani Israel melancarkan serangan dalam skala sebesar ini tanpa adanya izin dari kalangan tertentu, seperti Amerika, Eropa, dan juga Mesir dan Ramallah (Fatah).”

Sejauh ini, negara-negara Arab memang mendukung faksi Fatah yang mau bekerja sama dengan Israel. Mereka menen-tang Hamas. Maka merekapun merestui upaya Israel membumi-hanguskan Jalur Gaza. Bagi para pemimpin Arab yang memang sejak awalnya bergantung pada Barat, Israel sangat penting untuk menjaga eksistensi kekuasaan mereka karena Israel dianggap bisa menjadi poros kerja sama internasional dan sekaligus membantu memberangus ke-lompok-kelompok yang anti pemerintah Arab. Israel juga dianggap bisa menjadi mitra untuk menghadapi Iran.


Solusi

Bangsa Israel adalah bang-sa yang tidak bisa dipegang. Sepanjang sejarah mereka adalah bangsa yang selalu mengingkari perjanjian. Mereka tidak hanya melakukan itu terhadap sesama manusia tapi juga kepada para Nabi. Maka banyak pengamat menyatakan perundingan dengan Israel adalah sia-sia. Nyatanya fakta menunjukkan bahwa sejumlah perundingan damai antara Palestina dan Israel tak pernah membuat Palestina bisa mempe-roleh kembali wilayahnya. Justru dengan perundingan itu, Pales-tina kian kerdil. Kini wilayah yang dikuasai warga Palestina tinggal sekitar 10 persen. Lainnya dicaplok Israel.

Menurut juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M Ismail Yusanto, akar permasalahannya adalah penjajahan Israel atas tanah Palestina. Maka penye-lesaiannya adalah mengusir Israel dari wilayah tersebut. Jalannya adalah jihad fi sabilillah. Bukan perundingan. Karena itu dalam kondisi sekarang, peme-rintah negeri-negeri berpen-duduk Muslim seharusnya mengirimkan tentaranya untuk membantu perjuangan bangsa Palestina mengusir Israel dari tanah airnya.

Pemecahan masalah Pales-tina pun tak bisa mengandalkan para penguasa Arab karena mereka adalah antek-antek Barat. Ia menegaskan, masalah Pales-tina adalah tanggung jawab umat Islam di seluruh dunia. ”Jihad harus terus dikobarkan di sana,” tandasnya. Bersamaan dengan itu umat Islam harus berjuang membangun kekuatan alternatif yang bisa berhadapan langsung dengan Zionis dan negara pelindungnya yakni Amerika dan Eropa. Itulah Khilafah Islamiyah. Negara inilah yang akan bisa mengusir Israel dan membebaskan Palestina

Pemimpin Arab Berkhianat

Serangan Israel ke Jalur Gaza bukan serangan yang bersifat spontan. Semua terencana dengan rapi. Bahkan diketahui para pemimpin Arab. Ada persekongkolan dengan Israel.

"Dimana para pemimpin Arab? Mana tindakan mereka? Cukup sudah kutukan dan tudingan. Tunjukan dukungan pada Gaza,” kata seorang perempuan Sudan yang ikut aksi unjuk rasa ribuan orang kepada TV Al Manar.


Bush dan anteknya...Raja Abdullah

Sementara seorang pengun-juk rasa di Yaman kepada jaringan televisi Al-Jazeera, mengatakan Liga Arab tak berguna. “Mereka semua pemimpin tak berguna, mereka suruh pulang saja ke rumah,” katanya, seperti dikutip situs televisi CNN, Senin 29 Desember 2008.

Sejak serangan Israel ke Gaza pada Sabtu (27/12/2008) para pemimpin Arab terkesan diam. Seolah mereka hanya menonton dari dekat pembu-nuhan massal warga Palestina sambil sekali-sekali bicara, “Wah kejam sekali Israel”. Sambil duduk minum-minum dan bermewah-mewahan di istana, mereka hanya menghitung jumlah missil yang dilepaskan Israel dan jumlah korban Palestina.

Tak mengherankan bila warga Arab pun gemas dibuatnya. Hampir di seluruh dunia Arab, warga turun ke jalan. Mereka men-desak pemerintah mereka segera membantu warga Palestina. Muncul pula niat warga Arab untuk membantu secara langsung Palestina sebagai sukarelawan jihad. Namun justru para penguasa Arab lah yang menghalangi.

Di Mesir, pemerintah Husni Mubarak malah menangkap belasan anggota Ikhwanul Mus-limin yang berunjuk rasa menen-tang kebrutalan dan kebiadaban Israel. Di Arab Saudi, pemerintah Kerajaan Arab Saudi menangkap seorang ulama terkemuka, Awad Al-Qarni yang menyerukan untuk menyerang orang-orang Yahudi dan yang berhubungan dengan Yahudi di seluruh dunia. Fatwanya pada 29 Desember 2008: ”Saya mengeluarkan fatwa bahwa orang Israel termasuk hal-hal yang berhubungan dan berkepentingan Israel [sekutunya], 'halal' menjadi target orang Muslim di manapun ia berada [di seluruh dunia]. Para zionis harus menjadi target, dan darah orang Israel halal selama mereka menumpahkan darah saudara kita di Palestina. Jika tidak, selama orang Arab dan pemerintah Arab 'bungkam' terhadap kons-pirasi ini, orang-orang Israel tidak pernah takut untuk melakukan pembantaian ini“. Setelah seru-annya tersebar dalam berbagai situs dan forum, ia ditangkap di Saudi Selatan dan kemudian dibawa ke Riyadh.

Huni Mubarak (Sang Penjilat) berjabat tangan dengan Menlu Israel (Sang Pembantai)

Ketika desakan warga begitu gencar, para pemimpin Arab malah mengadakan pertemuan Dewan Kerjasama Teluk Persia, (Gulf Cooperation Council-GCC) melangsungkan Konferensi Ting-kat Tinggi (KTT) di Muscat, Ibukota Oman pada 31 Desember 2008. Para pemimpin Arab malah me-lempar tanggung jawab tragedi Gaza kepada masyarakat internasional. Dengan mendesak masyarakat internasional untuk secepatnya mengupayakan peng-hentian aksi brutal rezim Zionis Israel ke Gaza. Sikap tersebut sangat tidak disangka-sangka sehingga memaksa sejumlah media massa regional mereaksi sikap mereka. Para analis politik menilai sikap bungkam para pemimpin Arab terhadap tragedi Gaza sebagai bentuk perse-kongkolan mereka dengan kaum Zionis dan Barat.

Presiden Libya Muammar Gaddafi mengecam para pemimpin Arab karena hanya membiar-kan begitu saja penyerangan Israel terhadap Jalur Gaza. Ia menyebut para pemimpin negara Arab sebagai pengecut. Ia menyatakan para pemimpin negara Arab telah gagal dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. “Mereka seharusnya malu. Sebagian dari para pemimpin Arab hanya memberikan bantu-an lewat misi kemanusiaan saja. Sebagian lagi hanya berpidato saja. Mereka tengah memperjual-belikan rakyat Palestina,” kata Gaddafi.

Dunia pun sebenarnya tahu bahwa para pemimpin Arablah yang memayungi kekejaman Israel. Berdirinya Negara Zionis ini pun atas jasa para pemimpin Arab. Berbagai skenario dibuat dalam rangka memper-tahankan eksistensi Israel.

Pada pertemuan pemimpin Annapolis pada Nopember 2007 yang digagas Amerika, kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan meng-arah pada pembe-rangusan gerakan Hamas. Bagi para pemimpin Arab, Israel sangat penting untuk menjaga eksistensi kekuasaan mereka karena Israel dianggap bisa menjadi poros kerja sama internasional dan sekaligus membantu memberangus kelompok-kelompok yang anti pemerintah Arab.

Lihat saja pernyataan Direktur Intelijen Mesir, Umar Sulaiman yang menyatakan kepada Israel, beberapa hari yang lalu, bahwa Mubarak tidak kurang semangatnya dalam membasmi pemerintahan Gaza, daripada Tel Aviv sendiri. Mesir marah kepada Hamas karena tidak mau bertemu Fatah di Mesir. Maka setelah blokade ekonomi gagal meng-hentikan perlawanan, Israel dengan dukungan Arab ingin membumihanguskan Jalur Gaza. Malah dua hari sebelum serangan, Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni bertemu dulu dengan Presiden Husni Mubarak. Harian Al Quds Al Arabi yang berpusat di London juga melaporkan bahwa Mesir tidak akan memprotes serangan Israel, yang bertujuan untuk menja-tuhkan pemerintahan Hamas di Gaza.


Pelukan Mesra Penghianat dan Pembantai

Seorang pejabat penting Israel, beberapa saat setelah penyeranganya ke Gaza, menga-takan, “Kami telah mengemu-kakan rencananya kepada sejum-lah Negara Arab dan Barat, sebelum kami memutuskan untuk menyerang Gaza”. Tayib Abdurra-him, penasehat Abbas, menyusul serangan Israel ke Gaza mengata-kan, “Pemerintahan Oslo akan berkuasa kembali di Gaza. Warga Gaza diharapkan bersabar.” Para pemimpin Arab memang para pengkhianat umat.

Pengkhianatan Penguasa Saudi (Dulu dan Kini)

Dalam pidato pembukaan KTT Liga Arab yang dilangsungkan di Riyadh tanggal 28 Maret 2007, Raja Abdullah Ibnu Saud mengatakan bahwa kesengsaraan yang dialami bangsa Arab adalah akibat perselisihan yang kerap terjadi di antara para penguasa Arab. Padahal mereka hanya dapat mencegah “kekuatan asing untuk merumuskan masa depan wilayah itu” jika mereka bersatu. Kemudian dia melanjutkan pidatonya tentang sejarah Liga Arab, “Pertanyaannya adalah, apa yang telah kita lakukan dalam tahun-tahun belakangan ini untuk menyelesaikan semua permasalahan itu? Saya tidak ingin menyalahkan Liga Arab karena ia adalah sebuah entitas yang mencerminkan kondisi kita secara menyeluruh. Kita seharusnya menyalahkan diri kita sendiri; kita semua; pemimpin bangsa-bangsa Arab. Perbedaan-perbedaan kita yang permanen, penolakan kita untuk mengambil jalan persatuan, semuanya itu menyebabkan negara-negara Arab kehilangan kepercayaan diri dan kredibilitas serta kehilangan harapan pada masa kini dan masa depan kita.”

Dia lalu menggambarkan beberapa persoalan yang dihadapi oleh Dunia Islam, “Di Irak yang kita cintai, pertumpahan darah terjadi di antara saudara-saudara kita, dibayangi oleh pendudukan asing yang ilegal, dan kebencian sektarianisme yang menjurus pada perang saudara…Di Palestina, banyak orang menderita karena penindasan dan pendudukan. Sangat mendesak untuk mengakhiri blokade yang diberlakukan atas bangsa Palestina sehingga proses perdamaian dapat terus berjalan dalam kondisi tanpa penindasan.”

Apa yang digarisbawahi oleh Raja Abdullah dalam pidato pembukaanya tentang problem masa kini yang dihadapi kaum Muslim sudah sangat dimengerti oleh kaum Muslim di seluruh dunia. Namun, Dia melupakan peran yang telah dimainkannya, juga peran keluarga Saudi dalam menciptakan dan memperpanjang isu-isu semacam itu. Keluarga Saudi memiliki riwayat panjang terkait dengan pengkhianatan mereka terhadap umat. Mereka justru telah memainkan peran pentingnya dalam mencegah persatuan di Dunia Islam.

Mulai awal tahun 2006, Raja Abdullah telah mencetuskan inisiatif perdamaian yang akan mengakui Israel jika negara itu mengembalikan tanah yang dirampasnya pada perang tahun 1967. Untuk itu, Raja Abdullah bersedia menjadi perantara pada perjanjian antara Pemerintahan Hamas dan Fatah. Raja Abdullah menunjukkan sikap yang sebenarnya ketika Israel menginvasi Libanon pada bulan Juli 2006. Saat itu, pada pertemuan KTT Liga Arab dia bersama Yordania, Mesir, beberapa negara Teluk dan Otoritas Palestina, menghukum Hizbullah atas tindakannya yang dianggap tidak diharapkan, tidak pantas dan tidak bertanggung jawab. Menlu Arab Pangeran Saud al-Faisal pada saat itu mengatakan, “Tindakan itu akan membawa keseluruhan wilayah ini kembali beberapa tahun mundur ke belakang. Kami tidak bisa menerima hal itu.”

Saudi Arabia, bahkan meminta Sheikh terkemuka, Abdullah bin Jabrin, untuk mengeluarkan fatwa yang menyatakan tidak sahnya dukungan, bantuan dan doa bagi Hizbullah.

Keluarga Saudi sering dalam beberapa kesempatan, bersama dengan kekuatan penjajah Barat, bahu-membahu dalam menyediakan dukungan aktif. Dalam Perang Teluk yang pertama, Raja Fahd dengan resmi memerintah-kan penggelaran pasukan Amerika di tanah Saudi. Kerajaan itu menjadi tuan rumah bagi 600,000 pasukan Sekutu hingga kas negara mengalami defisit. Amerika mengeluarkan $60 miliar pada Perang Teluk pertama. Kuwait membayar separuhnya dari anggaran itu. Saat ini, 5000 tentara AS masih bercokol di kerajaan itu sejak akhir Perang Teluk. Sejak 1999, kehadiran mereka telah menimbulkan kejengkelan bagi warga Saudi hingga dikeluarkannya “Memorandum Nasihat” setebal 46 halaman oleh 107 pemuka kelompok Wahabi kepada Raja Fahd. Memorandum tersebut mengkritik pemerintah atas korupsi dan pelanggaran lainnya serta kebijakan pemerintah yang tetap membiarkan kehadiran tentara AS di tanah Saudi. Namun, jawaban yang diambil oleh Raja Fahd adalah menangkap mereka.


Sejarah Pengkhianatan al-Saud

Pengkhiatan telah berakar dalam di tubuh Kerajaan Saudi, yakni sejak keluarga Saudi memainkan peran langsungnya atas kehancuran Khilafah dan pembentukan negara Israel. Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris melakukan kontak-kontak dengan Ibnu Saud tahun 1851 untuk berhubungan dengan pihak-pihak yang dianggap pantas untuk menjadi penentang Khilafah yang beribukota di Istanbul. Keluarga Saudi pada saat itu adalah segerombolan bandit yang terlibat dalam percekcokan kesukuan, namun dengan uang dan senjata dari Inggris. Ibnu Saud mampu mengkonsolidasikan posisinya di wilayah-wilayah kunci di semenanjung Arab dan akhirnya di seluruh semenanjung itu. Ini terlihat pada perjanjian yang ditandatangani oleh Inggris tahun 1865. Ketika itu Inggris menginginkan sekutunya di wilayah itu untuk memberikan pijakan pada wilayah Kekhalifahan Usmaniah yang sedang sekarat. Sebagai imbalannya, Ibnu Saud menginginkan bantuan logistik dan militer Inggris untuk mengacaukan Kekhalifahan dari dalam.

Inggris memberikan Ibnu Saud sedikit subsidi yang dipakai untuk memperluas dan mempertahankan pasukan Wahabi. Pasukan ini adalah tulang punggung pasukan Ibnu Saud untuk melawan Khilafah. Ibnu Saud berusaha untuk memperoleh legitimasi dengan memakai gerakan Wahabi, pengikut Muhammad ibnu Wahab, yang berkeyakinan bahwa tanah Arab perlu dibersihkan dengan opini Islamnya. Ibnu Wahab menggunakan Wahabi untuk memberikan kredibilitas agama atas kebijakan pro-Inggrisnya. kaum Wahabi melihat kesempatan ini untuk melihat interpretasinya atas Islam agar menjadi mazhab yang dominan di wilayah itu.

Tahun 1910 keluarga al-Saud menjadi orang-orang yang lebih penting lagi bagi Inggris ketika mereka memberontak terhadap Kekhalifahan Usmani, dengan dukungan Inggris, dengan menyerang saudara sepupunya Ibnu Rashid yang mendukung Khilafah. Subsidi yang tadinya kecil menjadi bertambah dan sekomplotan penasihat dikirim untuk membantu gerakan Ibnu Saud.

Pemberontakan Arab (1916-1918) diawali oleh Syarif Hussein ibnu Ali dengan restu penuh Inggris. Tujuannya adalah untuk memisahkan semenanjung Arab dari Istanbul. Perjanjian ini diakhiri pada bulan Juni 1916 setelah dilakukan surat-menyurat dengan Komisi Tinggi Inggris Henry McMahon yang mampu meyakinkan Syarif Hussein akan imbalan yang diterimanya atas penghianatannya terhadap Kekhalifahan, yakni berupa tanah yang membentang dari Mesir dan Persia; dengan pengecualian penguasaan kerajaan di wilayah Kuwait, Aden, dan pesisir Syria. Pemerintah Inggris di Mesir langsung mengirim seorang opsir muda untuk bekerja bersama orang Arab. Orang itu adalah Kapten Timothy Edward Lawrence, atau yang dikenal dengan nama Lawrence dari Arab.

Setelah kekalahan Kekhalifahan Usmani tahun 1918 dan keruntuhan sepenuhnya tahun 1924, Inggris memberikan kontrol penuh atas negara-negara yang baru terbentuk, yakni Irak dan Trans-Jordan, kepada anak laki-laki Syarif Hussein yaitu Faisal dan Abdullah seperti yang sebelumnya dijanjikan. Keluarga al-Saud berhasil membawa seluruh Arab di bawah kontrolnya tahun 1930. Pandangan Inggris atas nasib Arab menyusul kekalahan Khilafah tercermin pada kata-kata Lord Crewe bahwa ia menginginkan, “Arab yang terpecah menjadi kerajaan-kerajaan di bawah mandat kami.” Untuk peran itu, keluarga Saudi menerimanya dengan senang hati.

Keluarga Saudi langsung bersekongkol dengan Inggris untuk menghancurkan Khilafah. Jika tidak terlalu buruk keluarga Saud juga akan langsung bersekongkol dengan Zionis untuk mendirikan Israel. Raja Abdullah 1 dari Trans-Jordan yang diciptakan Inggris mempelajari kemungkinan itu dengan David Ben Gurion (Perdana Menteri Israel yang pertama) di Istanbul tahun 1930-an. Abdullah menawarkan untuk menerima pendirian Israel. Sebagai imbalannya, dia akan menerima Jordania di bawah kontrol penduduk Arab di Palestina. Tahun 1946 Abdullah mengungkapkan minatnya untuk menguasai wilayah Arab di Palestina. Dia tidak berniat untuk menentang atau menghalangi pembagian Palestina dan pendirian negara Israel, seperti yang digambarkan oleh seorang sejarawan.

Saudaranya Raja Faisal dari Irak bahkan melebihi pengkhiatan Abdullah. Ketika itu, pada tahun 1919 Faisal menandatangani Perjanjian Faisal-Weizmann, dengan Dr. Chaim Weizmann, Presiden organisasi Zionis Dunia; dialah yang menerima dengan syarat Deklarasi Balfour berdasarkan janji yang dipenuhi oleh Inggris pada masa perang untuk kemerdekaan Arab.

Sejak tahun 1995 Saudi Arabia telah mengimpor $64.5 miliar dalam bentuk persenjataan, yang jauh melebihi pengimpor kedua terbesar, Taiwan, yang melakukan transaksi hanya sebesar $20.2 untuk persenjataan. Namun, tidak satu pun senjata-senjata itu yang digunakan untuk pertahanan bagi kaum Muslim atau di area konflik tempat kaum Muslim ditindas. Satu-satunya saat bagi Saudi ikut terlibat perang adalah ketika terjadi Perang Teluk. Saat itu, dia terlibat dalam mendukung koalisi terhadap Irak dan selama PD I. Pembatalan yang baru-baru ini dilakukan antara Saudi dan Inggris menunjukkan, bahwa keluarga Saudi tidak pernah berkeinginan untuk membela kepentingan kaum Muslim. Mereka hanya membeli persenjataan untuk memastikan berlanjutan industri persenjataan tuan-tuannya di Barat, sementara mereka tetap mengkhianati umat.

Friday, January 9, 2009

Inilah Wajah Antek-Antek Amerika dan Zionis di Indonesial

Masih ingat dengan Insiden Monas 1 Juni 2008 kemarin. Selidik punya selidik, ternyata ini telah diskenariokan untuk lagi-lagi mengkambing hitamkan Islam secara keseluruhan.

Kok bisa???

Fakta Pertama :

Bentrok antara masa Komando Laskar Islam dan masa AKKBB diblow up sedemikian rupa dengan cara-cara paling bodoh yang dilakukan agar dapat membentuk opini masyarakat bahwa Islam identik dengan kekerasan.


Sebenarnya insiden Monas tidaklah separah yang diberitakan, terbukti pencekikan yang dilakukan Munarman, panglima Komando Laskar Islam yang dijadikan cover Koran Tempo edisi Selasa, 3 Juni 2008 yang katanya terhadap salah satu masa AKKBB hanyalah manipulatif dan dusta. Orang yang dicekik Munarman ternyata adalah anak buahnya sendiri bernama Ucok Nasrullah alias Ponco yang dilakukannya agar anak buahnya tidak anarkis. Tapi sayangnya opini public telah terbentuk bersamaan dengan Headline yang telah keluar.

“Panglima Komando Laskar Islam Munarman mencekik salah seorang anggota Aliansi Kebangsaan di kawasan Monas. Foto ini ditunjukkan dalam jumpa pers kelompok Aliansi di kantor Wahid Institute, Jakarta, kemarin.” (Koran Tempo edisi Selasa, 3 Juni 2008 )

“Cekik Leher: Munarman, Panglima Komando Laskar Islam yang mantan Ketua YLBHI mencekik simpatisan massa AKKBB yang diserangnya, Minggu (1/6)” (Harian Tribun Jabar)

Hampir seluruh media memberitakan mengenai hal ini berikut juga adegan kekerasan yang terjadi saat insiden Monas terus berulang-ulang. Termasuk ketika seorang anak kecil yang tertangkap kamera dan televisi yang katanya anak dari masa AKKBB ternyata adalah anak dari Ustadz Tubagus Sidik, salah satu anggola Komando Laskar Islam.

Dibandingkan dengan bentrok yang terjadi antar kelompok pendukung cagub Malut selama berbulan-bulan dan sampai kini masih terus berlangsung. Atau bentrok yang terjadi antara polisi dan demonstran BBM di Unas. Apalagi bila dibandingkan dengan huru-hara puluhan ribu massa parpol pendukung calon Bupati Tuban yang sampai merusak dan membakar pendopo Kabupaten, perkantoran, dan pom bensin. Insiden Monas tidaklah separah yang diberitakan.

Lantas kenapa bisa jadi seheboh itu??

Jawabnya adalah karena mereka adalah muslim yang nyata sepak terjangnya ingin menegakkan syariat Islam!!!

Fakta Kedua :

Kapolri Jenderal Pol. Sutanto mengatakan bahwa insiden Monas terjadi karena kelompok AKKBB yang mencari masalah. Seharusnya mereka tidak masuk Monas sesuai pemberitahuan mereka kepada polisi, mereka harusnya ke Bundaran HI. Namun karena mereka masuk Monas meski tidak mendapat izin dari penguasa monas dan melakukan provokasi dengan pengumuman apel akbar di sejumlah media massa dan mencerca dengan kata-kata “Laskar Kafir!!! Laskar Setan!!!”, yang sontak membuat masa Komando Laskar Islam yang sebenarnya kehadiran mereka di Monas hanya ditugaskan untuk mengamankan demonstrasi tolak kenaikan harga BBM.

Fakta Ketiga :

Kedutaan Amerika Serikat diwakili John A Hefern yang datang membesuk para korban dari kalangan AKKBB di rumah sakit serta menggelar jumpa pers mengecam insiden tersebut dan mendesak pemerintah Indonesia terkait kasus tersebut memaksa Presiden SBY juga melakukan jumpa pers. Seharusnya selain melakukan jumpa pers seputar insiden Monas, presiden SBY selayaknya memberikan nota protes kepada pemerintah AS agar segera menghentikan campur tangannya dalam urusan dalam negeri Indonesia dan meminta maaf kepada pemerintah dan rakyat Indonesia. Termasuk juga kasus Namru-2.

Benar-benar aneh dan terlihat benang merah yang sangat jelas!!!

Fakta Keempat :

Pembunuhan karakter yang luar biasa terhadap Islam secara keseluruhan yang diwakili Front Pembela Islam yang seharusnya hanya ditujukan kepada Komando Laskar Islam begitu gencarnya dan disiarkan berulang-ulang. Sementara anarkisme yang dilakukan oleh pendukung AKKBB yaitu hanya sebagian kecil dari masa Nahdatul Ulama atau lebih tepatnya para taklidiyun Gus Dur yang menginginkan FPI bubar diangkat sedemikian rupa mengalahkan demo spektakuler Forum Ulama dan Habaib serta elemen umat Islam lainnya pada 9 Juni 2008 di Monas, Istana Negara dan Polda Metro Jaya. Di sini kita bisa melihat, publikasi yang dilakukan media sangat-sangat terlihat jelas tidak adil. Ketika itu berhubungan dengan umat Islam, maka diminimalisir sementara bila terhadap kaum SEPILIS (SEKULER, KAPITALIS dan LIBERALIS) diangkat setinggi-tingginya. Tapi sayangnya hanya sedikit umat Islam yang menyadarinya. Syukurnya Eramuslim.com, Republika, Gatra, Hidayatullah.com masih menjadi rujukan yang dapat dipertanggung jawabkan bagi untuk umat Islam. Jadi sebaiknya, rekomendasi saya, sebagai bahan penyeimbang yang dapat dipercaya, kalian bisa baca media-media yang dimaksud.

Silakan baca Pelajaran Berharga Peristiwa Monas, atau ini,

Tapi….. walau apapun yang terjadi ternyata makar Allah jauh lebih hebat dari makar siapapun.

Terbukti polling pembubaran FPI di beberapa media justru menjadi terbalik seperti yang diharapkan meski pembunuhan karakter itu begitu gencarnya.

Hasil polling Liputan6.com pada 10 Juni 2008, menunjukkan 59 persen (atau 89.126 pengakses) tidak menginginkan FPI bubar. Hanya 41 persen (atau 62.093 netter) yang meminta FPI dibubarkan. Sisanya 272 orang menyatakan abstain. Di Detik.com, 56,76 persen dari 26.022 orang menolak FPI dibubarkan. Di www.republika.co.id, yang menginginkan FPI jangan dibubarkan melejit 85,5 persen. Sementara di www.nu.or.id dukungan agar FPI tidak dibubarkan juga meningkat dari 59 persen menjadi 62 persen pada hari yang sama. Sebagiannya beralasan : “keberadaannya harus tetap dipertahankan guna menghapus kemaksiatan dan melawan kelompok liberal.”

Akibat harapan yang tidak sesuai, poling di Liputan6.com tersebut tiba-tiba lenyap tanpa penjelasan pada keesokan harinya (11/6). Article ini juga bisa dibaca di sini atau di sini.

Oke guys! Berikut adalah wajah-wajah yang harus kita waspadai!!

Tapi, mohon maaf, untuk para penentang gambar makhluk hidup tanpa rukhsah sedikitpun mohon tidak membaca penjelasan berikutnya, Kecuali yang hanya ingin mengambil mashlahatnya saja!! Silakah beralih ke article lainnya diblog ini. Afwan ziddan.

Lanjut!!

Terus ke bawah!!

Warning!!

Sedikit lagi!!

Ini Dia….

Gunawan Muhamad

Kader sosialis dan seorang kapitalis tulen yang kaya raya dari saham Tempo, Jawa Pos, dan berbagai perusahaan lainnya yang sinis terhadap agama (Islam). Selalu berperilaku seperti sosialis tulen yang moralis, demokratis, sok miskin, termasuk dengan penampilan kucel dan selalu memakai mobil Toyota kijang 1996-an. “Dialah agen utama Amerika di Indonesia,” kata seorang pensiunan perwira tinggi Angkatan Darat. Bersama Gus Dur, ia menerima hadiah uang senilai 250 ribu dollar AS (sekitar Rp 2,3 milyar) dan penghargaan “Dan David Prize” dari Israel. Dialah yang berperan dalam proses sekulerisasi di Indonesia dan membesarkan Abdurahman Wahid dan Nurcholis Madjid, sebagai lokomotif liberalisasi Islam di Indonesia dan dia pula yang mengorbitkan kalangan liberal seperti Ulil Abshar Abdala melalui Temponya.

Adnan Buyung Nasution

Pendukung AKKBB paling vocal. Pendiri YLBHI bersama tokoh intel Indonesia, Ali Moertopo. Dia selalu mengklaim diri sebagai lokomotif demokrasi. Padahal banyak tindakannya yang tidak demokratis, termasuk memecat Munarman dari posisi ketua YLBHI gara-gara Munarman mengadakan kegiatan pengajian di kantor YLBHI.

Todung Mulya Lubis

Dia adalah contoh kader sosialis yang telah berubah menjadi kapitalis sejati. Menjadi pengacara banyak perusahaan AS dengan gaji ribuan dollar per jam, namun masih suka ploretar. Dia sering menjual isu Indonesia dan Timor Timur saat menjadi Wakil Ketua Komisi Investigasi HAM untuk Timor-Timur. Menjadi Ketua International Crisis Group (ICG), lembaga pengkaji isu internasional yang analisanya tentang Islam dan Umat Islam sering melenceng dan menyakitkan.

M. Fajroel Rachman

Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan (Pedoman) Indonesia, adalah otak aksi mahasiswa ITB di tahun 1989. dikenal anti Islam dan menjadi motor dalam judicial review ke Mahkamah Konstirusi yang meminta pembubaran Lembaga Sensor Film (LSF) karena dianggap membunuh kreatifitas seni.

Rizal Malarangeng

Aktivis kapitalis neoliberal murni. Ketua Freedom Institute yang suka mejeng di baliho jalanan dengan semboyan Save Our Nation. Dan sebagai negosiator perjanjian Exxon Mobile. Jangan aneh melihat kekesalannya [baca kebenciannya] saat wawancara mengenai FPI pada insiden Monas di salah satu stasiun televisi swasta.

Ulil Abshar Abdalla

Dia adalah corong JIL paling tajam dan dikenal sebagai penentang formalitas dan hokum Islam. Saat ini sedang mengejar gelar doctor dan ditatrar untuk menjadi salah satu kader dan the Darling of Amerika di Boston. Dia dan seluruh aktivis jaringan Islam Liberal, komentarnya sudah sering keluar dari rambu syara. Misalnya, Guntur Romly pernah mengatakan bahwa naudzubillahi min dzalik—Al-Qur’an adalah kitab paling porno. Taufiq Adnan Amal mengatakan tafsir al-Qur’an sudah bias jender. Meski rata-rata mereka berasal dari lingkungan pesantren, mereka banyak yang sudah mengabaikan ibadah mahdlah seperti shalat lima waktu.

Musdah Mulia

Dia juga aktivis JIL yang pro homoseksual dan mengecam ulama yang menafsirkan al-Qur’an untuk menyalahkan kaum homo dan lesbi.

Luthfi Assyaukanie

Adalah dosen senior Universitas Paramadina, dan peneliti Freedom Institute yang mendapat dana jutaan dollar dari Amerika. Dia juga salah satu dewan pengarah di Maarif Institute, Co-Founder dan Anggota Dewan Pengarah JIL. Setelah menyelesaikan studi di Unibersity of Jordan dengan spesialisasi Filosofi dan Hukum Islam, ia lalu menyelesaikan gelar MA dan PhD di The University of Melbourne. Pandangannya tentang syariat Islam selalu negative.

Gus Dus

Sikapnya selalu negative terhadap formalitas hukum Islam. Dikenal sebagai sahabat Israel dan anggota Ghoyim Zionis. Pandangannya pun berbeda dengan pandangan PB Nahdlatul Ulama dalam masalah Islam Liberal, meski ia bekas Ketua Umum PB NU. Untuk kegiatan pro sekulerisme, pluralisme, liberalisme dan sosialisme, ia mendirikan The Wahid Institute yang dananya juga dari Amerika. Yang paling fresh dari Mr. Dur, beberapa waktu yang lalu, dia diundang ke AS untuk penganugerahan Medal of Valor (Medali Keberanian) dari Shimon Wiesenthal Center (WCS) karena dianggap sebagai sahabat paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti Indonesia.

Syafi’I Ma’arif

Sudah sejak lama, pandangannya cenderung pro Islam Liberal. Jika dulu pandangannya sering disebut Neo Mu’tazilah, belakangan diketahui bahwa ide-ide itu pula yang disebarkan anak muda JIL. Lulusan Chicago University ini pun membentuk Ma’arif Institute yang penelitiannya sering menyudutkan cita-cita penerapan hukum Islam di Indonesia. Dana Maarif Institute konon juga berasal dari Amerika.

Orang-orang inilah para pendukung AKKBB. Yang menggantungkan hidupnya pada bantuan asing seperti USAID, Asia Fondation, Ford Fondation, AusAID, dan TIFA. Dibalik aksi AKKBB lah akhirnya terlihat ada kepentingan asing. Indonesia dalam kondisi terjajah dengan model baru. Para penjajah yang menggunakan antek-antek di negeri ini yang berlangsung secara sistematis. Tujuannya hanya satu, yakni menghalangi umat Islam melaksanakan syariatnya. Selain mereka, masih banyak lagi yang tergabung dan secara nyata telah menampakkan keapatisannya terhadap syariat Islam. Untuk selengkapnya lihat Suara Islam edisi 46, tahun 2008 dengan judul ”Ini Dia Gembong AKKBB” pada halaman 6-7.

Semoga article ini bermanfaat dan membuka mata hati kita serta semakin terbuktilah firman Allah Subhanahu Wata’ala berikut ini,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)